Sekilas, Tari Tidi Lo O’ayabu terlihat sebagai tarian kipas yang lembut dan anggun. Para penarinya bergerak teratur sambil memainkan kipas, mengenakan busana adat Gorontalo, dan membentuk pola yang memberi kesan tenang.
Namun jika diperhatikan lebih dalam, hampir setiap unsur dalam tarian ini sebenarnya membawa pesan.
O’ayabu berarti kipas. Dalam tradisi yang melatarbelakanginya, kipas tidak sekadar menjadi properti pertunjukan, tetapi melambangkan kesejukan, ketegaran, serta kebijaksanaan perempuan dalam menghadapi kehidupan keluarga dan bermasyarakat.
Sumber Warisan Budaya Kemendikdasmen juga mencatat bahwa tarian ini memiliki 14 gerakan dengan makna masing-masing.
Itulah yang membuat Tari Tidi Lo O’ayabu dan makna di baliknya menarik untuk dipelajari.
Kita tidak hanya melihat keindahan koreografi, tetapi juga menemukan gambaran tentang penghormatan kepada tamu, kehalusan budi, hubungan keluarga, hingga nilai sosial masyarakat Gorontalo.
Apa Itu Tari Tidi Lo O’ayabu?
Tidi Lo O’ayabu merupakan salah satu bentuk tari tradisional Gorontalo yang termasuk dalam kelompok Tidi, yaitu tarian klasik yang berkembang dalam lingkungan kerajaan dan bangsawan Gorontalo.
Literatur Universitas Negeri Gorontalo menempatkan perkembangan tari klasik tersebut pada sekitar abad ke-17 dan ke-18.
Dalam bahasa Gorontalo, O’ayabu berarti kipas. Karena itu, tarian ini juga sering diperkenalkan secara sederhana sebagai tari kipas Gorontalo. Kipas menjadi properti utama sekaligus simbol yang membedakannya dari sejumlah jenis Tidi lainnya.
Pada masa lalu, Tidi berkaitan erat dengan lingkungan kerajaan. Sebuah kajian UNG menyebut bahwa penari Tidi Lo O’ayabu pada zaman dahulu berasal dari kalangan putri kerajaan.
Dalam perkembangannya, tarian tersebut semakin terbuka dan dapat dipentaskan dalam kegiatan budaya, pendidikan, penyambutan tamu, serta pertunjukan wisata.
Jadi, kita bisa melihat Tidi Lo O’ayabu sebagai seni tradisional yang berawal dari lingkungan istana tetapi kemudian menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Gorontalo yang lebih luas.
Kipas Menjadi Simbol Utama dalam Tidi Lo O’ayabu
Bagian paling mudah dikenali dari tarian ini tentu saja kipas.
Namun fungsi kipas jauh lebih dalam daripada sekadar membuat pertunjukan terlihat cantik. Sumber Warisan Budaya Kemendikdasmen menjelaskan kipas sebagai simbol ketegaran seorang perempuan yang menjadi “ratu” dalam rumah tangga.
Kipas juga dihubungkan dengan kesejukan, kebijaksanaan, dan kemampuan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Gambaran ini menarik karena sifat kipas sendiri identik dengan menciptakan kesejukan.
Dalam filosofi tradisional tersebut, perempuan digambarkan bukan hanya sebagai seseorang yang lembut, tetapi juga sebagai pribadi yang mampu menjaga ketenangan ketika muncul persoalan dalam keluarga. Kelembutan dengan demikian tidak dimaknai sebagai kelemahan.
Justru ada ketegaran di baliknya.
Kajian terbaru Universitas Negeri Gorontalo juga membaca simbol tersebut dalam konteks yang lebih luas, yakni penghormatan terhadap perempuan, hubungan sosial, tanggung jawab, dan kehidupan yang harmonis.
Ada 14 Gerakan dengan Pesan yang Berbeda
Keindahan Tidi Lo O’ayabu tidak dibangun dari gerakan yang dilakukan secara sembarangan. Tarian ini mempunyai 14 motif gerak.
Penelitian UNG mencatat rangkaian tersebut dimulai dari gerakan memasuki arena dan penghormatan, dilanjutkan dengan beberapa formasi, pengambilan kipas, permainan kipas, gerakan melingkar, penggunaan selendang, hingga keluar dari arena.
Salah satu yang paling mudah dipahami maknanya adalah gerakan ketika kipas diambil dan dimainkan dengan kedua tangan.
Gerakan tersebut ditafsirkan sebagai upaya menghalau tantangan. Artinya, kipas kembali ditempatkan sebagai simbol kemampuan menghadapi berbagai persoalan dengan keteguhan dan kebijaksanaan.
Gerakan penghormatan juga mempunyai posisi penting karena Tidi Lo O’ayabu sejak lama berkaitan dengan penyambutan tamu.
Ketika seluruh rangkaian dilihat sebagai satu kesatuan, tarian ini terasa seperti bahasa tanpa kata. Gerak tubuh, arah langkah, kipas, formasi, dan ekspresi menyampaikan nilai yang mungkin sulit dijelaskan hanya melalui percakapan.
Makna Kehalusan Budi dalam Menyambut Tamu
Salah satu nilai terkuat dari Tidi Lo O’ayabu adalah cara memperlakukan tamu.
Sumber resmi Warisan Budaya menyebut tarian ini menggambarkan pentingnya kehalusan budi seorang putri ketika menerima tamu, baik tamu dari kalangan atas maupun masyarakat biasa.
Pesannya terasa sederhana, tetapi cukup kuat: penghormatan seharusnya tidak bergantung pada status seseorang.
Kajian terhadap syair Tidi Lo O’ayabu dari Universitas Negeri Gorontalo juga menemukan amanat serupa. Pesan yang dibawa syairnya berkaitan dengan menyambut tamu menggunakan kelembutan hati.
Dalam kehidupan sehari-hari, nilai ini masih sangat relevan.
Cara menerima orang lain, berbicara dengan sopan, menjaga sikap, dan tidak membeda-bedakan seseorang berdasarkan kedudukannya merupakan bagian dari etika sosial. Karena itu, Tidi Lo O’ayabu sebenarnya menjadi media pendidikan budaya, bukan hanya pertunjkan estetis.
Busana dan Musik Melengkapi Makna Tarian
Tidi Lo O’ayabu juga mempunyai identitas visual yang kuat.
Basis data Warisan Budaya menyebut busana yang digunakan adalah madipungu dengan lima tangkai sunti. Sementara iringannya menggunakan rebana dan suling.
Kajian UNG juga mencatat unsur yang sama, yakni jumlah penari lima orang dalam bentuk penyajian tradisional yang dibahas, dengan madipungu sebagai pakaian adat serta rebana dan suling sebagai musik pengiring.
Busana, musik, dan gerak tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri.
Ketiganya membentuk suasana pertunjukan yang khas Gorontalo. Jika geraknya menghadirkan kelembutan dan keteraturan, pakaian adat memperkuat identitas visual, sedangkan iringan musik memberikan ritme yang menjaga keseluruhan penyajian tetap harmonis.
Inilah salah satu alasan sebuah tari tradisional tidak cukup dilestarikan dengan hanya menghafalkan koreografinya. Unsur musik, properti, kostum, konteks acara, hingga makna simboliknya juga perlu dipahami.
Dari Lingkungan Kerajaan hingga Acara Masyarakat
Fungsi Tidi Lo O’ayabu mengalami perkembangan seiring perubahan zaman.
Pada konteks tradisional, tarian ini berhubungan dengan lingkungan bangsawan serta penyambutan tamu. Kini tarian tersebut juga dapat dipertunjukkan pada acara syukuran dan resepsi pernikahan.
Penggunaan Tidi Lo O’ayabu sebagai tari penyambutan masih bertahan hingga sekarang.
Misalnya, profil resmi Desa Wisata Religi Bubohu di Jadesta mencantumkan tarian ini sebagai salah satu atraksi untuk menyambut tamu yang berkunjung ke kawasan Bubohu Bongo di Kabupaten Gorontalo.
Artinya, tradisi tersebut tidak hanya tersimpan dalam buku atau museum.
Wisatawan masih mempunyai peluang menemukan Tidi Lo O’ayabu dalam konteks kebudayaan yang hidup. Kehadirannya di destinasi wisata juga membantu masyarakat memperkenalkan seni Gorontalo kepada orang-orang dari luar daerah.
Tidi Lo O’ayabu Telah Menjadi Warisan Budaya Takbenda
Posisi Tidi Lo O’ayabu dalam kebudayaan Gorontalo semakin kuat setelah mendapat pengakuan dalam program Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat Tidi Lo O’ayabu sebagai salah satu dari tujuh karya budaya Gorontalo yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2019.
Karya budaya lain dalam kelompok tersebut antara lain Upiya Karanji, Molonthalo, Mohunthingo, Ilabulo, Tiliaya, dan Tepa Tonggo.
Pengakuan seperti ini penting, tetapi bukan berarti pekerjaan pelestarian selesai.
Warisan budaya akan benar-benar bertahan ketika masih dipelajari, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, pelestarianya membutuhkan keterlibatan seniman, masyarakat, sekolah, pemerintah, hingga lembaga kebudayaan.
Upaya tersebut masih dilakukan sampai sekarang. Pada April 2026, Museum Provinsi Gorontalo mengadakan kegiatan pembelajaran khusus mengenai sejarah, makna, fungsi, dan strategi pelestarian Tidi Lo O’ayabu.
Kegiatannya bahkan dilengkapi praktik langsung agar peserta tidak hanya mengenal tarian secara teori.
Nilai Tidi Lo O’ayabu Masih Relevan Hari Ini
Mungkin muncul pertanyaan: apa hubungan tarian kerajaan ratusan tahun lalu dengan kehidupan sekarang?
Jawabannya terletak pada nilai yang dibawanya.
Penelitian UNG tahun 2025 melihat Tidi Lo O’ayabu sebagai medium yang membawa nilai penghormatan terhadap martabat manusia, solidaritas, etika bermasyarakat, penghargaan terhadap perempuan, dan harmoni kehidupan.
Jika diterjemahkan ke kehidupan modern, pesannya masih sangat dekat.
Masyarakat tetap membutuhkan kemampuan menghormati orang lain, menyelesaikan masalah dengan bijaksana, menjaga hubungan keluarga, dan menghadapi tekanan tanpa kehilangan ketenangan.
Simbol kipas sebagai pembawa kesejukan terasa sederhana, tetapi pesan tersebut tidak kehilangan relevansinya.
Inilah kekuatan sebuah warisan tradisional.
Bentuk pertunjukannya mungkin berasal dari masa lampau, tetapi nilai yang dibawa masih bisa berbicara kepada masyarakt hari ini.
Tari Tidi Lo O’ayabu dan makna di baliknya memperlihatkan bahwa tarian tradisional Gorontalo bukan hanya tentang gerakan yang indah.
Kipas menjadi simbol ketegaran dan kesejukan, sedangkan rangkaian geraknya menyampaikan pesan tentang penghormatan, kebijaksanaan, kehalusan budi, serta kesiapan menghadapi tantangan.
Dari lingkungan kerajaan, Tidi Lo O’ayabu berkembang menjadi bagian dari penyambutan tamu, kegiatan masyarakat, pendidikan budaya, sampai atraksi wisata di Bubohu Bongo.
Pengakuannya sebagai Warisan Budaya Takbenda pada 2019 semakin menegaskan pentingnya tarian ini bagi identitas Gorontalo.
Jika mendapat kesempatan menyaksikannya, jangan hanya melihat keindahan kipas dan busananya. Coba pahami cerita di setiap gerakan. Di situlah Tidi Lo O’ayabu menunjukkan kekayaan maknanya.
FAQ
1. Apa arti O’ayabu?
O’ayabu berarti kipas. Dalam tarian ini, kipas melambangkan kesejukan, ketegaran, dan kebijaksanaan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
2. Berapa jumlah gerakan Tari Tidi Lo O’ayabu?
Tidi Lo O’ayabu memiliki 14 motif gerak, mulai dari memasuki arena, penghormatan, permainan kipas, formasi melingkar, hingga keluar dari arena.
3. Kapan Tidi Lo O’ayabu biasanya ditampilkan?
Tarian ini dapat ditampilkan untuk penyambutan tamu, acara syukuran, dan resepsi pernikahan. Kini tarian tersebut juga hadir sebagai pertunjukan budaya dan atraksi wisata.
4. Apakah Tidi Lo O’ayabu termasuk Warisan Budaya Takbenda?
Ya. Tidi Lo O’ayabu termasuk karya budaya Gorontalo yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2019.
5. Di mana wisatawan bisa mengenal Tidi Lo O’ayabu?
Salah satu tempatnya adalah Desa Wisata Religi Bubohu di Desa Bongo, Kabupaten Gorontalo, yang mencantumkan Tidi Lo O’ayabu sebagai atraksi budaya.
