Berkunjung ke Desa Wisata Religi Bubohu rasanya kurang lengkap kalau hanya berhenti di Taman Bubohu, melihat Masjid Walima Emas, lalu pulang.
Ada satu pengalaman lain yang tidak kalah menarik: mengenal makanan yang hidup bersama tradisi masyarakat Desa Bongo.
Kuliner Bubohu yang patut dicoba memang sangat erat dengan budaya Gorontalo, khususnya Tradisi Walima. Kolombengi, sukade, dan wapili bukan sekadar camilan.
Kue-kue tersebut hadir dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menjadi bagian dari kebiasaan berbagi makanan kepada keluarga, pezikir, serta masyarakat.
Profil resmi Desa Wisata Religi Bubohu bahkan mencantumkan kuliner dan tempat makan sebagai fasilitas kawasan, sementara kolombengi dan sukade terdaftar sebagai produk wisata lokal.
Menariknya, posisi Bongo di kawasan pesisir juga membuat pengalaman makan di sini tidak terpisahkan dari ikan dan berbagai hidangan khas Gorontalo.
Jadi, apa saja makanan yang sebaiknya dicari ketika menjelajahi Bubohu?
1. Kolombengi, Kue yang Paling Identik dengan Bubohu
Jika hanya punya kesempatan mencoba satu kue ketika berada di Bongo, kolombengi menjadi pilihan yang paling masuk akal.
Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat kolombengi sebagai salah satu produk wisata Desa Wisata Religi Bubohu. Kue ini mempunyai hubungan sangat erat dengan Walima, tradisi masyarakat Gorontalo dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Bahan dasarnya relatif sederhana, terutama telur, tepung terigu, dan gula. Adonan kemudian dicetak serta dipanggang hingga menghasilkan kue yang cukup tahan lama.
Daya tahan tersebut ternyata menjadi salah satu alasan kolombengi begitu penting dalam Walima.
ANTARA pada 2025 mencatat cerita warga Bongo bahwa dahulu masyarakat membawa hasil kebun ke masjid. Karena berat, sajian kemudian berganti menjadi kue basah. Kue basah tidak bertahan lama, sehingga generasi sebelumnya memilih membuat kolombengi yang lebih awet.
Sekarang kolombengi tidak hanya menjadi makanan ritual. Ia juga menjadi oleh-oleh yang membawa cerita Bongo dalam bentuk paling sederhana: satu kue manis yang berkaitan langsung dengan sejarah tradisi masyarakatnya.
2. Sukade, Manis dengan Taburan Kacang
Setelah kolombengi, coba cari kue sukade.
Jadesta mencatat sukade sebagai kue tradisional khas Gorontalo sekaligus salah satu produk Desa Wisata Religi Bubohu. Kue ini mempunyai rasa manis dari gula merah dengan taburan kacang kering di bagian atas.
Karakter seperti ini membuat sukade cocok dinikmati bersama kopi atau teh.
Namun di Desa Bongo, posisinya lebih menarik daripada sekadar teman minum sore.
Sukade juga kerap muncul dalam tolangga ketika Tradisi Walima berlangsung. Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat kolombengi, sukade, dan wapili sebagai beberapa kue tradisional yang disusun pada tolangga untuk perayaan Maulid.
Pada persiapan Festival Walima September 2025, seorang warga bahkan membuat sekitar 500 kolombengi sekaligus 500 sukade untuk dibagikan melalui tolangga dan kepada keluarga.
Artinya, ketika mencicipi sukade, kita sebenarnya sedang mengenal makanan yang mempunyai tempat tersendiri dalam kehidupan sosial masyarakat Gorontalo.
3. Wapili, Kue Tradisional yang Ikut Meramaikan Walima
Nama wapili mungkin tidak sepopuler kolombengi bagi wisatawan dari luar Gorontalo.
Namun kue ini beberapa kali tercatat sebagai bagian dari sajian Walima di Desa Bongo. Pada perayaan 2022, Pemerintah Provinsi Gorontalo menyebut tolangga masyarakat berisi beragam kue seperti kolombengi, sukade, wapili, dan makanan lainnya.
Wapili memperlihatkan bahwa kuliner Walima tidak hanya bergantung pada satu jenis makanan.
Dalam satu tolangga, pengunjung dapat menemukan berbagai rasa dan bentuk. Ada makanan yang tetap dipertahankan secara tradisional, sementara isi lainnya mengalami perubahan mengikuti zaman.
Bagi wisatawan, mencari kue-kue seperti wapili bisa menjadi aktivitas kecil yang menarik.
Daripada hanya membeli makanan yang sudah familiar, tanyakan kepada warga atau penjual lokal mengenai kudapan yang biasa muncul ketika Walima. Cara sederhana ini sering membuka cerita yang tidak kita temukan di papan informasi wisata.
4. Nasi Kuning, Ikan, dan Ayam dalam Toyopo
Walima bukan hanya tentang tumpukan kue.
Pada bagian bawah tolangga terdapat wadah yang dikenal sebagai toyopo. Secara tradisional, toyopo dibuat dari anyaman janur atau daun kelapa dan digunakan untuk membawa makanan yang lebih berat.
Apa isinya?
Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat toyopo dapat berisi nasi kuning, ikan yang telah dimasak, sambal, serta kue basah. Dalam laporan lain mengenai perayaan Walima Bongo, nasi, ikan, dan ayam juga disebut sebagai bagian dari sajian masyarakat.
Bagian ini menarik karena memperlihatkan sisi makanan rumahan dalam tradisi Bongo.
Kue memang lebih mudah dipamerkan pada tolangga, tetapi makanan utama tetap mempunyai peran besar dalam acara keluarga dan keagamaan.
Bagi wisatawan, kesempatan menikmati sajian semacam ini mungkin lebih bergantung pada waktu kunjungan dan ketersediaan di masyarakat dibandingkan membeli kolombengi dari kios.
Jika datang ketika ada Walima atau kegiatan budaya, pengalaman kulinernya tentu akan terasa berbeda.
5. Lalampa, Camilan Gurih yang Layak Dicari
Selain kue manis, ada pula lalampa.
Profil produk kolombengi di Jadesta menyebut lalampa sebagai salah satu makanan yang dapat muncul bersama kolombengi dan nasi kuning dalam konteks perayaan Maulid.
Lalampa secara umum dikenal sebagai makanan berbahan beras ketan yang dibungkus daun dan memiliki isian gurih. Bentuknya membuat makanan ini praktis disantap ketika sedang bepergian.
Karakter tersebut cocok dengan perjalanan wisata.
Setelah berjalan di Taman Bubohu atau menuju kawasan perbukitan Masjid Walima Emas, camilan gurih memberi variasi setelah mencoba beberapa jenis kue manis.
Namun penting membedakan statusnya.
Kolombengi dan sukade secara eksplisit tercatat sebagai produk wisata Bubohu, sedangkan lalampa disebut sebagai bagian makanan yang dapat hadir dalam konteks Walima.
Perbedaan kecil ini penting agar kita tidak memberi label “khas Bubohu” pada semua makanan Gorontalo.
Kuliner Pesisir dan Kehidupan Nelayan Desa Bongo
Ada alasan lain mengapa ikan terasa relevan ketika berbicara tentang makanan Bongo.
Desa ini berada di Kecamatan Batudaa Pantai dan mempunyai hubungan kuat dengan kehidupan pesisir. Bahkan bentuk tolangga yang dibuat masyarakat terkadang menyerupai kapal laut sebagai gambaran mata pencaharian warga yang banyak berhubungan dengan aktivitas nelayan.
Karena itu, jangan heran apabila ikan hadir dalam sajian rumah tangga atau kegiatan adat.
Di dalam toyopo pada Walima, misalnya, ikan yang sudah dimasak termasuk makanan yang biasa ditempatkan bersama nasi dan lauk lainnya.
Bagi wisatawan, pengalaman kuliner Bubohu sebaiknya memang tidak hanya dipahami sebagai berburu kue.
Cobalah bertanya mengenai masakan ikan yang tersedia di warung atau tempat makan sekitar ketika Anda datang. Jadesta sendiri mencatat fasilitas kuliner, kafetaria, dan tempat makan di Desa Wisata Religi Bubohu.
Ketersediaan menu tentu bisa berubah, sehingga lebih aman melihatnya langsung saat kunjungan daripada menganggap satu hidangan selalu tersedia setiap hari.
Lengkapi Perjalanan dengan Kuliner Khas Gorontalo
Setelah menjelajahi makanan yang memiliki kaitan langsung dengan Bubohu, perjalanan kuliner dapat diperluas ke masakan khas Gorontalo.
Salah satu yang paling terkenal adalah Binte Biluhuta, sup jagung dengan suwiran ikan, kelapa, kemangi, dan sentuhan rasa asam. Indonesia Travel memasukkannya dalam daftar makanan khas Gorontalo yang layak dicoba.
Ada pula Bilenthango, hidangan ikan dengan cabai, bawang merah, dan tomat yang dimasak menggunakan teknik khas dengan daun pisang. Bagi daerah yang identitasnya dekat dengan pesisir seperti Bongo, menu berbasis ikan tentu terasa pas untuk melengkapi perjalanan.
Pilihan lain adalah Ilabulo, olahan sagu dengan hati ampela ayam, bumbu, dan santan yang kemudian dibungkus daun pisang. Indonesia Travel juga menyebut Ayam Iloni, Perkedel Nike, Sate Balanga, dan Sayur Putungo sebagai bagian dari khazanah makanan Gorontalo.
Namun makanan-makanan tersebut sebaiknya disebut kuliner Gorontalo, bukan otomatis kuliner khas Bubohu.
Jika tersedia di sekitar perjalanan menuju atau dari Bongo, tentu sangat layak dicoba.
Walima adalah Waktu Menarik untuk Mengenal Kuliner Bongo
Jika ingin melihat hubungan makanan dan budaya secara langsung, waktu paling menarik datang ke Bongo adalah ketika Tradisi Walima berlangsung.
Pada perayaan 2022, tercatat 116 tolangga membawa total sekitar 57.222 kue tradisional. Tolangga tersebut diarak menuju masjid setelah rangkaian dikili atau zikir dilaksanakan.
Produksi kue dalam jumlah besar bukan hanya menciptakan pemandangan unik.
Ada banyak keluarga yang bekerja bersama untuk memasak, menghias, menyusun makanan, dan kemudian membagikannya. Pada Festival Walima 2025, warga kembali membuat kolombengi dan sukade secara sukarela untuk kegiatan tersebut.
Di sinilah makanan berubah menjadi bagian dari kebersaman.
Kolombengi tidak hanya dibuat untuk dijual. Ia menjadi bagian dari rasa syukur, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, silaturahmi, dan tradisi berbagi.
Karena itu, wisata kuliner Bongo akan terasa jauh lebih lengkap jika kita memahami konteks tersebut.
Tips Berburu Kuliner Saat Berkunjung ke Bubohu
Mulailah dari makanan yang paling jelas identitasnya.
Cari kolombengi dan sukade terlebih dahulu karena keduanya memang tercatat sebagai produk wisata Desa Wisata Religi Bubohu. Setelah itu, tanyakan kepada penjual atau masyarakt tentang wapili, lalampa, atau sajian lokal lain yang tersedia ketika Anda berkunjung.
Jika datang saat Walima, hormati konteks keagamaannya.
Makanan yang tersusun dalam tolangga bukan sekadar objek foto atau jajanan gratis. Sajian tersebut menjadi bagian dari rangkaian zikir, doa, dan tradisi berbagi masyarakat.
Untuk makanan berat, manfaatkan warung atau tempat makan lokal dan tanyakan menu hari itu.
Pendekatan seperti ini justru membuat perjalanan terasa lebih natural. Anda bisa menemukan makanan yang benar-benar dikonsumsi warga, bukan hanya menu yang dibuat khusus untuk pariwsata.
Kuliner Bubohu yang patut dicoba paling kuat hubungannya dengan kehidupan budaya Desa Bongo. Kolombengi menjadi ikon utama, disusul sukade dan wapili yang ikut hadir dalam Tradisi Walima.
Sementara nasi kuning, ikan, ayam, sambal, dan makanan dalam toyopo memperlihatkan sisi lain dari tradisi makan masyarakat.
Wisatawan juga bisa melengkapi perjalanan dengan mencicipi kuliner Gorontalo seperti Binte Biluhuta, Bilenthango, atau Ilabulo jika menemukannya selama perjalanan.
Saat datang ke Bubohu, jangan hanya bertanya makanan apa yang enak. Tanyakan juga mengapa makanan itu dibuat dan kapan biasanya disajikan.
Dari percakapan sederhana tersebut, kuliner berubah dari sekadar urusan rasa menjadi cara mengenal kehidupan Desa Bongo lebih dekat.
FAQ
1. Apa kuliner yang paling khas dari Bubohu?
Kue kolombengi menjadi salah satu yang paling identik karena tercatat sebagai produk Desa Wisata Religi Bubohu dan merupakan bagian penting Tradisi Walima di Bongo.
2. Apa saja kue yang biasa ada dalam Tradisi Walima?
Beberapa yang tercatat adalah kolombengi, sukade, dan wapili. Isi tolangga modern juga dapat memiliki variasi makanan lain.
3. Apa itu Kue Sukade?
Sukade adalah kue tradisional Gorontalo dengan rasa manis dari gula merah dan taburan kacang kering. Kue ini juga tercatat sebagai produk wisata Bubohu.
4. Apakah makanan Walima hanya berupa kue?
Tidak. Toyopo dapat berisi nasi kuning, ikan matang, sambal, kue basah, dan sajian lainnya. Ayam juga disebut dalam dokumentasi perayaan Walima Bongo.
5. Apakah Binte Biluhuta merupakan makanan khas Bubohu?
Lebih tepat menyebut Binte Biluhuta sebagai kuliner khas Gorontalo, bukan khusus Bubohu. Namun hidangan ini sangat layak dicari untuk melengkapi perjalanan kuliner selama berada di Gorontalo.
