Datang ke Desa Wisata Religi Bubohu di Gorontalo rasanya kurang lengkap jika hanya melihat Taman Wisata Bubohu, Masjid Walima Emas, lalu pulang setelah mengambil beberapa foto.
Ada sisi lain yang justru membuat perjalanan ke kawasan ini semakin menarik: produk buatan masyarakatnya.
Produk unggulan Desa Wisata Bubohu tidak selalu berupa barang mewah atau suvenir yang dibuat khusus untuk wisatawan. Sebagian justru berasal dari kehidupan sehari-hari, tradisi keagamaan, keterampilan masyarakat pesisir, hingga kerajinan yang diwariskan turun-temurun.
Dalam profil resminya, Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata mencatat sejumlah produk dan paket khas Bubohu, mulai dari Kue Kolombengi, Kue Sukade, Karawo, Gelokoh, Souvenir Walima, hingga Ecogreen Yotama.
Menariknya, setiap produk memiliki cerita berbeda. Ada yang berhubungan dengan perayaan Maulid Nabi, kehidupan nelayan, seni sulam Gorontalo, bahkan pengelolaan lingkungan.
Jadi, membeli produk lokal di Bubohu sebenarnya juga berarti membawa pulang sebagian kecil cerita Desa Bongo.
Produk Lokal Menjadi Bagian dari Pengalaman Wisata Bubohu
Desa Wisata Religi Bubohu berada di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Kawasan ini dikenal melalui kombinasi wisata religi, budaya, dan alam, dengan tiga destinasi utamanya berupa Taman Wisata Bubohu, Masjid Walima Emas, dan Pantai Dulanga.
Namun konsep desa wisata tidak hanya berbicara tentang objek yang bisa dikunjungi.
Kehadiran kios suvenir, kuliner, paket wisata, dan produk masyarakat membuat aktivitas wisata dapat terhubung langsung dengan ekonomi lokal. Dalam daftar resmi Jadesta, Bubohu memiliki kategori suvenir dan sejumlah paket pengalaman yang berasal dari keterampilan masyarakat setempat.
Inilah yang membuat produknya menarik untuk diperhatikan.
Barang yang dibeli wisatawan bukan hanya benda untuk dibawa pulang. Banyak di antaranya memiliki hubungan langsung dengan adat, tradisi Islam, kondisi pesisir, serta kehidupan sehari-hari warga Bongo.
1. Kue Kolombengi, Rasa Manis yang Melekat dengan Tradisi Walima
Jika harus memilih salah satu produk yang paling erat dengan identitas Bubohu, Kue Kolombengi layak berada di urutan awal.
Kolombengi merupakan kue adat Gorontalo yang memiliki hubungan kuat dengan tradisi Walima, yaitu peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Jadesta menjelaskan bahwa Kolombengi merupakan salah satu kue yang wajib disajikan dalam tradisi tersebut dan biasanya mendominasi isi tolangga, wadah yang digunakan untuk menata makanan pada perayaan Maulid.
Bahan dasarnya relatif sederhana, seperti telur, tepung terigu, gula, vanili, dan beberapa bahan tambahan. Namun nilai sebenarnya tidak hanya terletak pada resep.
Ketika jumlah kebutuhan meningkat menjelang perayaan Walima, produksi Kolombengi juga menciptakan peluang ekonomi bagi para pembuat kue. Jadesta bahkan menyoroti bahwa tradisi tersebut dapat memberi nilai tambah dan pendapatan kepada masyarakat lokal.
Bagi wisatawan, Kolombengi menarik karena bisa menjadi oleh-oleh sekaligus pengingat tentang tradisi religi yang membentuk karakter Bubohu.
2. Kue Sukade, Oleh-Oleh Sederhana dengan Cita Rasa Lokal
Selain Kolombengi, ada pula Kue Sukade.
Jadesta mencatat Sukade sebagai kue tradisional khas Gorontalo yang tersedia sebagai produk Desa Wisata Religi Bubohu. Cita rasanya cenderung manis karena menggunakan gula merah, kemudian bagian atasnya diberi taburan kacang kering.
Kue ini cocok dinikmati bersama teh atau kopi.
Sekilas memang sederhana. Namun makanan seperti Sukade justru penting dalam sebuah desa wisata karena tidak setiap pengunjung ingin membeli kerajinan berukuran besar atau oleh-oleh mahal.
Kuliner lokal memberikan pilihan yang lebih praktis.
Wisatawan dapat mencicipinya selama perjalanan atau membawanya pulang sebagai buah tangan. Pada saat yang sama, permintaan terhadap makanan tradisional dapat membantu menjaga resep lokal agar tetap dibuat oleh generasi berikutnya.
Kolombengi dan Sukade menunjukkan bahwa identitas kuliner Bubohu tidak harus hadir dalam bentuk makanan kompleks. Kue kecil pun dapat menjadi pintu untuk mengenal budaya Gorontalo.
3. Karawo, Kerajinan Khas Gorontalo yang Bernilai Seni Tinggi
Produk berikutnya memiliki karakter sangat berbeda.
Karawo merupakan kerajinan tekstil khas Gorontalo yang dibuat melalui proses pengerjaan manual. Dalam profil produk Bubohu, Jadesta menjelaskan Karawo sebagai seni menghias kain menggunakan berbagai motif sulaman dengan benang polos maupun berwarna.
Proses pembuatannya tidak sekadar menyulam di permukaan kain.
Serat tertentu pada kain harus dirancang, diiris, dan dicabut sehingga membentuk bidang yang kemudian disulam kembali menjadi motif. Teknik semacam ini membutuhkan ketelitian tinggi dan pengalaman.
Karena prosesnya rumit, Karawo memiliki nilai yang berbeda dari suvenir produksi massal.
Kain tersebut dapat dikembangkan menjadi pakaian, aksesori, atau benda dekoratif. Bagi wisatawan yang mencari oleh-oleh dengan identitas Gorontalo yang kuat, Karawo merupakan salah satu pilihan paling mudah dikenali.
Menariknya, Karawo dalam konteks Bubohu bukan hanya barang dagangan. Ia juga memperlihatkan bahwa pengembagan desa wisata dapat menghubungkan wisata religi dengan kerajinan tradisional daerah yang lebih luas.
4. Gelokoh, Kerajinan yang Lahir dari Kehidupan Nelayan
Jika Karawo membawa cerita tentang seni tekstil, Gelokoh membawa kita ke kehidupan pesisir.
Desa Bongo berada di Kecamatan Batudaa Pantai, sehingga hubungan masyarakat dengan laut menjadi bagian penting dari keseharian mereka. Gelokoh mencerminkan hubungan tersebut dengan cara yang cukup unik.
Menurut profil produk di Jadesta, Gelokoh merupakan kerajinan tangan masyarakat Desa Bongo yang digunakan nelayan untuk merapikan tali pancing. Produk ini disebut dikenal serta digunakan oleh nelayan di Gorontalo.
Ini menarik karena Gelokoh pada dasarnya lahir sebagai benda fungsional.
Ia tidak dibuat pertama-tama untuk menghiasi etalase suvenir, melainkan untuk menjawab kebutuhan nyata masyarakat yang bekerja di laut.
Ketika kemudian diperkenalkan sebagai produk wisata, fungsi tersebut justru menjadi nilai tambah.
Wisatawan memperoleh benda yang mempunyai cerita jelas tentang kehidupan nelayan lokal. Gelokoh memperlihatkan bahwa sebuah produk unggulan tidak harus diciptakan secara baru untuk pariwisata.
Kerajnan sehari-hari pun bisa menjadi warisan pengetahuan lokal yang layak diperkenalkan.
5. Souvenir Walima Membawa Simbol Tradisi ke Bentuk Modern
Walima begitu kuat dalam identitas Bubohu sehingga tradisinya juga menginspirasi produk suvenir.
Jadesta mencatat Souvenir Walima sebagai salah satu produk unggulan Desa Bongo. Produk tersebut dirancang sebagai tanda mata dari Desa Wisata Religi Bubohu dan dapat dimanfaatkan sebagai benda dekoratif maupun tempat alat tulis di ruang kerja.
Yang membuatnya menarik bukan hanya fungsi barang tersebut.
Suvenir ini mengambil inspirasi dari identitas Walima yang merupakan bagian penting kehidupan budaya dan keagamaan masyarakat Gorontalo.
Hubungan serupa dapat dilihat pada arsitektur di kawasan Bubohu. Indonesia Kaya mencatat bahwa di lingkungan pesantren alam terdapat bangunan kayu menyerupai toyopo, yaitu wadah khas yang digunakan untuk menyimpan kue saat peringatan Maulid Nabi.
Artinya, tradisi Walima bukan hanya hadir ketika perayaan berlangsung.
Bentuk, simbol, makanan, dan benda yang berkaitan dengannya terus muncul dalam lingkungan Bubohu. Souvenir Walima menjadi salah satu cara membawa simbol tersebut ke bentuk yang lebih praktis bagi pengunjung.
6. Ecogreen Yotama Menawarkan Produk Berbasis Lingkungan
Produk unggulan Bubohu tidak semuanya berupa kuliner atau kerajinan.
Dalam daftar paket wisata resminya terdapat Ecogreen Yotama, sebuah konsep yang berkaitan dengan teknologi pengelolaan lingkungan dan pertanian organik.
Jadesta mencantumkan beberapa unsur di dalamnya seperti pemanfaatan eceng gondok, mikroba organik lokal atau MOL, pupuk hitam, bahan hayati, kotoran hewan, hingga pestisida organik tradisional.
Keberadaan paket seperti ini menunjukkan arah yang cukup menarik.
Desa wisata dapat menjadi tempat belajar, bukan sekadar tempat membeli barang.
Pengunjung berpotensi mengenal bagaimana bahan yang ada di sekitar dimanfaatkan kembali serta bagaimana pendekatan organik diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Konsep semacam ini sejalan dengan karakter Bubohu yang sejak awal berkembang bukan hanya sebagai kawasan wisata, tetapi juga ruang pendidikan dan pesantren alam. Indonesia Kaya mencatat keberadaan pesantren alam sebagai salah satu ciri penting kawasan adat Bubohu.
Jadi, “produk” dalam konteks desa wisata dapat berbentuk pengalaman dan pengetahuan.
Produk Bubohu Menghubungkan Wisata dengan Ekonomi Warga
Jika dilihat bersama-sama, produk Bubohu ternyata menceritakan beberapa sisi kehidupan dalam satu desa.
Kolombengi dan Souvenir Walima terhubung dengan tradisi keagamaan. Sukade memperkenalkan kuliner lokal. Karawo menghadirkan keterampilan tekstil Gorontalo.
Gelokoh menunjukkan kehidupan nelayan, sementara Ecogreen Yotama membawa pendekatan lingkungan.
Keberagaman semacam ini penting bagi sebuah desa wisata.
Wisatawan tidak hanya mengeluarkan uang untuk tiket atau transportasi, tetapi juga bisa membeli produk masyarakat.
Ketika rantai ekonomi tersebut berjalan baik, manfaat pariwisata berpotensi menyebar lebih luas kepada pembuat kue, pengrajin, kelompok wisata, dan pelaku usaha lokal.
Profil Jadesta sendiri memasukkan fasilitas kuliner dan kios suvenir sebagai bagian dari amenitas Desa Wisata Religi Bubohu.
Tentu pelestarianya juga tetap penting.
Semakin populer suatu produk, semakin besar godaan untuk membuat versi massal yang kehilangan cerita aslinya. Karena itu, kekuatan produk lokal sebaiknya tetap berada pada hubungan dengan masyarakat, cara pembuatan, dan sejarah di baliknya.
Tips Memilih Oleh-Oleh Saat Berkunjung ke Bubohu
Tidak perlu membeli semuanya sekaligus.
Jika ingin sesuatu yang mudah dimakan atau dibagikan kepada keluarga, Kolombengi dan Sukade menjadi pilihan praktis. Jika mencari benda dengan nilai kerajinan lebih kuat, Karawo atau Souvenir Walima lebih cocok.
Sementara itu, wisatawan yang tertarik pada kehidupan pesisir dapat mencari tahu lebih banyak tentang Gelokoh dan bagaimana nelayan menggunakannya.
Yang paling penting, jangan hanya bertanya soal harga.
Cobalah bertanya siapa yang membuat produknya, bagaimana proses pembuatannya, serta apa hubungannya dengan masyarakat Bongo. Percakapan sederhana seperti itu sering membuat sebuah oleh-oleh terasa jauh lebih berkesan.
Produk unggulan Desa Wisata Bubohu memperlihatkan bahwa kekayaan kawasan ini tidak hanya berada pada Taman Bubohu, Masjid Walima Emas, atau panorama pesisirnya.
Ada Kue Kolombengi yang erat dengan tradisi Walima, Kue Sukade, kerajinan Karawo, Gelokoh dari kehidupan nelayan, Souvenir Walima, hingga konsep Ecogreen Yotama.
Setiap produk membawa cerita yang berbeda tentang Desa Bongo dan budaya Gorontalo. Itulah yang menjadikannya lebih menarik daripada oleh-oleh biasa.
Saat berkunjung ke Bubohu, sisihkan waktu untuk melihat produk masyarakat lokal.
Membeli hasil karya warga bukan hanya memberi kita kenang-kenangan perjalanan, tetapi juga menjadi salah satu cara sederhana untuk mendukung ekonomi lokal sekaligus menjaga cerita budaya tetap hidup.
FAQ
1. Apa produk unggulan Desa Wisata Bubohu?
Produk yang tercatat dalam profil resmi desa wisata antara lain Kue Kolombengi, Kue Sukade, Karawo, Gelokoh, Souvenir Walima, serta paket Ecogreen Yotama.
2. Apa oleh-oleh kuliner khas Bubohu?
Dua produk kuliner yang tercatat secara resmi adalah Kue Kolombengi dan Kue Sukade. Kolombengi memiliki hubungan erat dengan tradisi Walima atau peringatan Maulid Nabi.
3. Apa itu Gelokoh?
Gelokoh merupakan kerajinan masyarakat Desa Bongo yang digunakan nelayan untuk membantu merapikan tali pancing.
4. Apakah Karawo tersedia sebagai produk wisata Bubohu?
Ya. Karawo tercantum sebagai salah satu produk atau paket wisata Desa Wisata Religi Bubohu di Jadesta Kementerian Pariwisata.
5. Mengapa membeli produk lokal di Bubohu penting?
Selain menjadi oleh-oleh, pembelian produk lokal membantu memperluas manfaat ekonomi pariwisata kepada pembuat makanan, pengrajin, dan pelaku usaha masyarakt di sekitar desa wisata.
