Mengenal Tradisi Walima di Desa Bongo: Maulid Khas Gorontalo

Bayangkan sebuah desa pesisir yang sejak pagi dipenuhi warga membawa usungan berhias ratusan hingga ribuan kue.

Di masjid terdengar lantunan zikir, sementara keluarga sibuk menata kolombengi, sukade, dan berbagai makanan tradisional untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat.

Suasana seperti inilah yang dapat ditemui dalam Tradisi Walima di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Walima merupakan tradisi masyarakat Gorontalo untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Di Bongo, perayaan tersebut berkembang menjadi salah satu identitas budaya dan religi paling kuat, bahkan ikut membentuk citra Desa Wisata Religi Bubohu.

Namun Walima bukan sekadar festival kue atau arak-arakan yang ramai untuk difoto.

Di balik tolangga yang penuh makanan terdapat proses panjang berupa dikili atau zikir, doa, gotong royong keluarga, sedekah, silaturahmi, dan penghormatan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Karena itulah mengenal Walima berarti sekaligus mengenal cara masyarakat Bongo menghubungkan agama dengan kehidupan sosial dan budaya.

Apa Itu Tradisi Walima?

Walima merupakan tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Gorontalo.

Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat tradisi ini diperkirakan telah ada sejak sekitar abad ke-17, beriringan dengan perkembangan Islam di wilayah yang dahulu dikenal sebagai Bumi Hulondalo.

Perayaannya memiliki bentuk yang khas.

Masyarakat tidak hanya berkumpul di masjid untuk berdoa. Mereka juga mempersiapkan berbagai makanan, menghias wadah besar yang disebut tolangga, serta mengikuti rangkaian zikir yang dikenal sebagai dikili.

Tradisi tersebut tersebar di berbagai wilayah Gorontalo, tetapi Desa Bongo memiliki posisi khusus. Penelitian etnografi Universitas Negeri Gorontalo bahkan menyebut Desa Bongo sebagai salah satu wilayah yang merepresentasikan pelaksanaan Walima di Provinsi Gorontalo.

Karena itu, tidak mengherankan jika nama Bongo sekarang sangat identik dengan Festival Walima.

Walima dan Identitas Religi Desa Bongo

Desa Bongo berada di Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Di desa inilah terdapat kawasan yang dikenal sebagai Desa Wisata Religi Bubohu, dengan Taman Wisata Bubohu, Masjid Walima Emas, dan Pantai Dulanga sebagai beberapa destinasi utamanya.

Walima mempunyai hubungan besar dengan terbentuknya identitas tersebut.

Sebuah kajian Universitas Negeri Gorontalo mengenai perkembangan pariwisata Bongo menjelaskan bahwa desa ini sejak lama memiliki daya tarik kegiatan keagamaan berupa perayaan Walima untuk memperingati Maulid Nabi.

Tradisi tersebut kemudian menjadi salah satu unsur yang memperkuat pengembangan kawasan sebagai desa wisata religi.

Dengan kata lain, label “wisata religi” Bongo bukan sekadar nama pemasaran.

Ia memiliki dasar pada praktik keagamaan yang memang hidup di tengah masyarakat.

Bahkan dalam profil resmi Jadesta Kementerian Pariwisata, Parade Walima dan Dikili tercatat sebagai atraksi budaya di Desa Wisata Religi Bubohu.

Dikili, Zikir Sepanjang Malam sebelum Walima

Sebelum tolangga diarak dan kue dibagikan, ada bagian Walima yang jauh lebih khidmat, yaitu dikili.

Dikili merupakan tradisi melantunkan zikir, puji-pujian, serta kisah mengenai Nabi Muhammad SAW. Di Desa Bongo, pelaksanaannya dilakukan sejak malam dan dapat berlangsung hingga pagi hari sebelum ditutup dengan doa Walima.

Pada perayaan yang dilaksanakan di Masjid Walima Emas pada 2022, misalnya, para pelantun dikili telah berkumpul sejak malam sebelumnya. Lantunannya menggunakan bahasa Arab dan Gorontalo serta memuat kisah dan sifat Nabi yang diharapkan dapat diteladani masyarakat.

Bagian ini penting untuk dipahami karena sering kali perhatian pengunjung justru tertuju pada parade dan makanan.

Padahal inti spiritual Walima berada pada zikir, doa, dan kecintaan kepada Nabi.

Keramaian yang terlihat keesokan harinya merupakan bagian lanjutan dari proses keagamaan tersebut.

Tolangga Menjadi Ikon Perayaan Walima

Jika ada satu benda yang paling mudah dikenali dalam Walima, jawabannya adalah tolangga.

Tolangga merupakan usungan atau wadah yang dihias dan dipenuhi berbagai jenis makanan. Dalam perayaan di Desa Bongo, warga membawa tolangga dari lingkungan tempat tinggal menuju masjid, kemudian makanan di dalamnya dibagikan setelah rangkaian doa selesai.

Bentuknya bisa sangat meriah.

Tolangga dapat dipenuhi kue hingga terlihat seperti menara. Dalam perkembangan festival, dekorasinya semakin kreatif tanpa menghilangkan fungsi utama sebagai tempat membawa makanan untuk kegiatan keagamaan dan berbagi.

Pada bagian bawah tolangga juga dikenal toyopo, wadah dari anyaman janur yang dapat digunakan untuk menaruh nasi, ikan, atau ayam yang telah dimasak.

Jadi, tolangga bukan sekadar dekorasi festival.

Ia menjadi simbol kebersaman karena pembuatannya membutuhkan waktu, tenaga, biaya, serta kerja sama anggota keluarga dan masyarakat.

Kolombengi, Kue yang Tidak Terpisahkan dari Walima

Tolangga akan terasa kurang lengkap tanpa kue kolombengi.

Kolombengi merupakan salah satu kue adat Gorontalo yang sangat erat hubungannya dengan perayaan Maulid. Jadesta menyebut kue ini sebagai sajian yang mendominasi isi tolangga dalam Tradisi Walima.

Mengapa kolombengi begitu populer?

Salah satu alasannya adalah daya tahan kue tersebut. Dalam wawancara ANTARA dengan warga Bongo pada 2025, dijelaskan bahwa generasi terdahulu memilih membuat jenis kue yang lebih tahan lama dibandingkan kue basah. Dari situlah kolombengi menjadi salah satu sajian utama Walima.

Skala produksinya bisa cukup besar.

Dalam persiapan Festival Walima 2025, seorang warga Bongo mengaku membuat sekitar 2.250 kue kolombengi dari 15 bak telur, sedangkan warga lain menyiapkan sekitar 500 kolombengi dan 500 sukade. Kue tersebut kemudian ditempatkan pada tolangga maupun dibagikan kepada keluarga.

Selain kolombengi, isi Walima dapat mencakup sukade, wapili, nasi, ikan, ayam, dan berbagai makanan lainnya.

Dari Tradisi Keluarga Menjadi Festival Budaya

Walima sebenarnya merupakan praktik keagamaan dan sosial masyarakat. Namun di Desa Bongo, tradisi tersebut kemudian berkembang menjadi festival yang mampu menarik pengunjung dari berbagai daerah.

Konsep parade membuat tolangga diarak bersama-sama menuju pusat perayaan. Anak muda dan pelajar juga terlibat dalam Parade Walima, termasuk melalui kostum serta dekorasi yang mengambil inspirasi dari tolangga dan kue tradisional.

Festival tersebut pernah berlangsung dalam skala yang sangat besar.

ANTARA melaporkan bahwa dalam salah satu penyelenggaraan terdahulu, hingga satu juta kue kolombengi disiapkan untuk Festival Walima di Bubohu Bongo.

Penggagas Festival Walima saat itu, Yosef Tahir Ma’ruf atau Yotama, menjelaskan bahwa format parade dan festival digunakan untuk memperkenalkan adat serta budaya Gorontalo kepada wisatawan.

Tradisi itu terus berlangsung hingga sekarang.

Sebagai contoh, Festival Walima pada September 2025 menampilkan 119 tolangga dan 117 peserta dikili, memperlihatkan bagaimana unsur budaya dan spiritual tetap berjalan berdampingan.

Gotong Royong Menjadi Roh Tradisi Walima

Di balik keramaian festival terdapat hal yang mungkin tidak langsung terlihat wisatawan: persiapannya.

Membuat ratusan kue bukan pekerjaan beberapa menit. Warga harus menyiapkan bahan, memasak, menata makanan, membuat atau menghias tolangga, hingga membawanya menuju masjid.

Proses tersebut biasanya melibatkan keluarga dan lingkungan sekitar.

Penelitian etnografi di Desa Bongo menemukan bahwa nilai Walima tidak hanya terlihat pada proses perayaannya, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sosial masyarakat melalui kebiasaan saling membantu.

Inilah salah satu makna penting Walima.

Tradisi keagamaan berubah menjadi ruang bertemunya warga, memperkuat hubungan keluarga, berbagi makanan, dan bekerja bersama.

Sedekah makanan juga membuat perayaan terasa inklusif. Setelah didoakan, berbagai sajian dalam tolangga dibagikan kepada masyarakt dan pengunjung.

Walima Juga Menggerakkan Ekonomi Lokal

Ada sisi lain yang menarik dari Tradisi Walima di Desa Bongo, yaitu dampaknya terhadap ekonomi masyarakat.

Bayangkan kebutuhan ribuan kue dalam waktu berdekatan. Telur, tepung, gula, kemasan, dekorasi, makanan, hingga tenaga pembuat kue mengalami peningkatan permintaan.

Jadesta menyebut produksi kolombengi menjelang perayaan Maulid dapat memberi nilai tambah ekonomi dan pendapatan bagi pembuat kue lokal.

Ketika Walima berkembang menjadi agenda wisata, dampaknya menjadi lebih luas.

Pengunjung yang datang juga membutuhkan makanan, transportasi, suvenir, serta berbagai layanan lokal. Pemerintah Provinsi Gorontalo bahkan menyebut Walima sebagai salah satu agenda wisata tahunan yang menjadi bagian dari keunikan Desa Wisata Religi Bubohu.

Tantangannya adalah menjaga agar kepentingan pariwsata tidak mengubah Walima menjadi sekadar tontonan.

Nilai religius tetap harus menjadi inti, sementara festival dan aktivitas ekonomi berada di sekelilingnya.

Cara Menyaksikan Walima dengan Lebih Bermakna

Bagi wisatawan, menghadiri Walima tentu menawarkan pengalaman yang unik. Namun sebaiknya jangan datang hanya untuk mengejar foto tolangga atau berebut kue.

Cobalah melihat keseluruhan prosesnya.

Dengarkan dikili, amati bagaimana warga bekerja bersama, perhatikan bentuk tolangga, dan tanyakan dengan sopan mengenai arti makanan yang disajikan.

Karena acaranya berkaitan dengan peringatan keagamaan, pakaian yang sopan serta sikap menghormati kegiatan di dalam masjid juga penting.

Walima memberikan pengalaman paling menarik ketika pengunjung memahami bahwa mereka sedang melihat tradsi hidup, bukan pertunjukan yang sengaja dibuat semata-mata untuk wisatawan.

Dengan cara itu, perjalanan ke Desa Bongo menjadi lebih dari sekadar kunjungan wisata.

Tradisi Walima di Desa Bongo menunjukkan bagaimana agama, budaya, kuliner, dan kehidupan sosial dapat bertemu dalam satu perayaan.

Rangkaian dimulai dengan dikili dan doa, kemudian dilanjutkan dengan hadirnya tolangga yang dipenuhi kolombengi serta beragam makanan untuk dibagikan kepada masyarakat.

Walima juga menjadi salah satu fondasi identitas Desa Bongo sebagai Desa Wisata Religi Bubohu. Di balik kemeriahan parade terdapat nilai kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, sedekah, silaturahmi, serta gotong royong yang terus diwariskan.

Jika berkesempatan datang ke Gorontalo saat perayaan Maulid, Desa Bongo layak masuk dalam daftar perjalanan. Nikmati suasananya, tetapi jangan berhenti pada keramaiannya.

Cobalah memahami cerita dan nilai yang membuat Walima bertahan hingga sekarang.

FAQ

1. Apa itu Tradisi Walima?

Walima merupakan tradisi masyarakat Gorontalo untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan rangkaian zikir atau dikili, doa, tolangga, serta pembagian makanan kepada masyarakat.

2. Di mana Festival Walima Desa Bongo dilaksanakan?

Tradisi ini dilaksanakan di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Masjid At-Taqwa menjadi salah satu pusat pelaksanaan Walima, sementara kegiatan juga pernah diselenggarakan di Masjid Walima Emas.

3. Apa itu tolangga dalam Tradisi Walima?

Tolangga adalah wadah atau usungan yang dihias dan diisi berbagai makanan, terutama kue tradisional, lalu dibawa ke masjid dalam rangkaian Walima.

4. Apa kue khas dalam Walima Gorontalo?

Kue yang paling identik adalah kolombengi. Selain itu, terdapat pula sukade, wapili, serta berbagai makanan tradisional lainnya.

5. Apa hubungan Walima dengan Desa Wisata Religi Bubohu?

Walima merupakan salah satu atraksi budaya dan tradisi keagamaan utama Desa Bongo yang memperkuat identitas kawasan sebagai Desa Wisata Religi Bubohu.