Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di berbagai daerah Indonesia memiliki bentuk yang berbeda.
Ada masyarakat yang merayakannya dengan pembacaan Barzanji, pengajian, sedekah makanan, hingga kirab budaya. Gorontalo mempunyai cara tersendiri yang dikenal dengan nama Walima.
Ketika perayaan berlangsung, suasananya memang meriah. Tolangga dengan bentuk beragam dipenuhi kue, masyarakat berkumpul di sekitar masjid, sementara kolombengi menjadi makanan yang hampir selalu muncul.
Namun bagian terpenting justru berlangsung sebelum keramaian tersebut, yakni dikili, zikir dan lantunan kisah Nabi yang dapat berlangsung sepanjang malam hingga pagi.
Sejarah Walima dalam masyarakat Gorontalo memperlihatkan hubungan panjang antara masuknya Islam dan kebudayaan lokal.
Tradisi ini tidak muncul sebagai festival pariwisata sejak awal. Ia tumbuh sebagai perayaan keagamaan, diwariskan melalui masyarakat, kemudian berkembang mengikuti perubahan zaman.
Dari sebuah ritual Maulid, Walima akhirnya juga menjadi simbol kebersamaan, sedekah, kuliner tradisional, dan identitas budaya Gorontalo.
Apa Itu Walima dalam Budaya Gorontalo?
Walima merupakan tradisi masyarakat Muslim Gorontalo dalam memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Rangkaian acaranya umumnya berkaitan dengan zikir, doa, penyediaan makanan, serta pembagian sajian kepada masyarakat. Salah satu unsur yang paling khas adalah tolangga, yaitu wadah berhias yang digunakan untuk menata berbagai makanan sebelum dibawa menuju masjid.
Tradisi ini bukan hanya ditemukan di satu kampung.
Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat perayaan Maulid dengan tradisi tersebut berlangsung di berbagai daerah Gorontalo.
Namun Desa Bongo di Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo kemudian menjadi salah satu tempat yang paling dikenal karena kemeriahan Festival Walima.
Penelitian etnografi Universitas Negeri Gorontalo bahkan menggunakan Desa Bongo sebagai lokasi yang merepresentasikan praktik tradisi tersebut di Gorontalo.
Jejak Walima Berkaitan dengan Masuknya Islam ke Gorontalo
Menentukan tanggal pasti lahirnya sebuah tradisi yang diwariskan secara turun-temurun tidak selalu mudah.
Sumber Pemerintah Provinsi Gorontalo menyebut Walima diperkirakan telah berkembang sejak sekitar abad ke-17, ketika Islam semakin kuat dalam kehidupan masyarakat Bumi Hulondalo.
Sumber Kementerian Agama juga menggambarkan tradisi ini sebagai hasil perjumpaan ajaran Islam dengan kearifan masyarakat setempat.
Karena itu, abad ke-17 lebih tepat dipahami sebagai perkiraan periode perkembangan tradisi, bukan tanggal kelahiran yang benar-benar pasti.
Penelitian akademik mengenai tradisi Maulid masyarakat Muslim Gorontalo menunjukkan bahwa penyebaran Islam membawa perubahan pada cara masyarakat memandang kehidupan keagamaan.
Pada saat yang sama, unsur lokal yang dianggap sesuai tetap dipertahankan sehingga lahirlah bentuk kebudayaan dengan karakter Gorontalo yang khas.
Di sinilah sejarah Walima menjadi menarik.
Tradisi tersebut memperlihatkan bahwa masuknya agama baru tidak selalu menghilangkan seluruh kebiasaan lokal. Sebaliknya, terjadi proses adaptasi yang kemudian menghasilkan bentuk perayaan baru.
Dikili Menjadi Inti Spiritual Perayaan
Jika tolangga dan kolombengi adalah bagian yang paling mudah terlihat, dikili merupakan salah satu inti spiritualnya.
Dikili dapat dipahami sebagai zikir yang berisi pujian, doa, serta kisah mengenai kehidupan Nabi Muhammad SAW. Dalam praktik di Desa Bongo, pelantun dikili dapat memulai kegiatan setelah Isya dan melanjutkannya hingga pagi sebelum doa penutup dilaksanakan.
Menariknya, sumber Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat naskah dikili menggunakan bahasa Gorontalo yang ditulis dalam aksara Arab tanpa harakat. Isi lantunannya tidak hanya membahas kelahiran Nabi, tetapi juga perjalanan kenabian hingga wafatnya.
Penelitian Universitas Negeri Gorontalo terhadap praktik dikili di Bongo juga menemukan bahwa pelaksanaannya dapat berlangsung sekitar 16–17 jam dan melibatkan pezikir laki-laki maupun perempuan.
Karena membutuhkan kemampuan khusus, pewarisan kepada generasi muda menjadi penting.
Tanpa regenerasi, bagian paling sakral dari tradisi tersebut justru berisiko kalah populer dibandingkan festival yang terlihat lebih meriah.
Tolangga Berkembang Menjadi Simbol Walima
Setelah dikili, unsur yang sangat identik dengan perayaan ini adalah tolangga.
Tolangga merupakan konstruksi atau wadah yang biasanya dibuat dari bilah kayu maupun bambu. Bentuknya beragam, mulai dari menara, masjid, hingga perahu, lalu permukaannya dipenuhi makanan dan kue tradisional.
Bentuk tersebut dapat mencerminkan kehidupan masyarakat.
Di Desa Bongo yang memiliki hubungan erat dengan aktivitas pesisir, misalnya, tolangga berbentuk perahu menjadi salah satu bentuk yang dapat ditemui. Hal ini menunjukkan bagaimana unsur lingkungan dan mata pencaharian masuk ke dalam ekspresi budaya.
Penelitian tentang tolangga di Kota Gorontalo juga mencatat bahwa wadah ini memiliki berbagai bentuk serta kandungan simbolis yang menjadi ciri khas budaya Walima.
Di dalamnya dapat ditempatkan makanan melalui toyopo, wadah yang secara tradisional dibuat dari anyaman daun kelapa.
Seiring zaman, bentuk dan bahan yang digunakan mengalami perubahan. Beberapa warga sekarang menggunakan wadah modern serta menambahkan makanan kemasan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tradsi tetap hidup karena mampu beradaptasi.
Kolombengi dan Tradisi Berbagi Makanan
Tidak lengkap membicarakan sejarah Walima tanpa membahas kue kolombengi.
Kue tradisional ini menjadi salah satu sajian yang paling identik dengan perayaan Maulid di Gorontalo. Kolombengi ditata pada tolangga bersama sukade, wapili, telur, dan beragam makanan lainnya.
Jumlahnya terkadang sangat besar.
Dalam perayaan di Desa Bongo pada Oktober 2022, misalnya, Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat sebanyak 116 tolangga membawa total 57.222 kue tradisional.
Pada Festival Walima di Bubohu Bongo yang diberitakan ANTARA, perayaan bahkan pernah dikemas dengan sekitar satu juta kue kolombengi yang disajikan dan diarak menuju masjid.
Namun angka besar tersebut bukanlah inti tradisinya.
Setelah didoakan, makanan dibagikan kepada pezikir, keluarga, masyarakat, maupun tamu. Pola ini memperlihatkan nilai sedekah dan kebersaman yang menjadi bagian penting dari perayaan.
Penelitian etnografi di Bongo menyimpulkan bahwa tanggung jawab masyarakat dalam menjalankan tradisi tersebut dipahami sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan sekaligus wujud kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Walima Menguatkan Hubungan Sosial Masyarakat
Sebuah festival besar tidak mungkin berlangsung hanya dengan kerja satu atau dua orang.
Jauh sebelum hari puncak, keluarga sudah menyiapkan bahan makanan, membuat ratusan kue, menyusun tolangga, membersihkan tempat kegiatan, serta mengatur kebutuhan para pezikir.
Proses tersebut secara tidak langsung menjadi ruang gotong royong.
Kajian etnografi Universitas Negeri Gorontalo menemukan bahwa nilai budaya dalam Walima tidak berhenti ketika perayaan selesai. Sikap saling membantu dan menghargai orang lain juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Bongo.
Ada istilah lokal mopo udaa to tawu, yang dalam penelitian tersebut dijelaskan sebagai sikap menghargai orang lain. Nilai tersebut terlihat dari cara masyarakat menyambut orang-orang yang datang ketika perayaan berlangsung.
Karena itu, fungsi Walima lebih luas daripada ritual tahunan.
Ia menjadi kesempatan mempererat hubungan keluarga, menerima tamu, berbagi rezeki, dan menjaga komunikasi antarwarga.
Dari Perayaan Maulid Menjadi Festival Budaya
Perubahan besar terlihat ketika tradisi ini mulai dikembangkan menjadi bagian dari pariwisata.
Desa Bongo menjadi contoh paling jelas. Perayaan yang sudah lama hidup di masyarakat kemudian dikemas melalui Festival dan Parade Walima, sehingga menarik pengunjung dari luar kawasan.
Pemerintah Provinsi Gorontalo menyebut Bongo sebagai ikon pariwisata untuk tradisi tersebut meskipun perayaan Maulid berlangsung di banyak wilayah Gorontalo.
Di Desa Wisata Religi Bubohu, Parade Walima sekarang tercatat sebagai salah satu atraksi wisata budaya. Arak-arakan juga melibatkan generasi muda dan pelajar dengan pakaian yang terinspirasi dari tolangga dan unsur perayaan Maulid.
Perubahan ini membawa dua sisi.
Pariwisata membantu mengenalkan warisan lokal kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus membuka peluang ekonomi. Namun pengelolaannya perlu memastikan bahwa zikir, doa, sedekah, dan nilai religius tidak tersingkir oleh kebutuhan pertunjukan.
Dengan kata lain, festival boleh berkembang, tetapi makna sejarahnya tetap perlu dijaga.
Walima Hari Ini: Tradisi Lama yang Terus Beradaptasi
Tradisi ini sampai sekarang masih dijalankan.
Pada September 2025, misalnya, masyarakat Desa Bongo kembali mempersiapkan kolombengi secara sukarela untuk Festival Walima.
Seorang warga yang diwawancarai ANTARA bahkan membuat ribuan kue bersama keluarganya untuk ditempatkan pada tolangga sekaligus dibagikan kepada keluarga yang berkunjung.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa Walima bukan warisan yang hanya tersimpan dalam dokumen sejarah.
Masyarakat masih mempraktikkannya secara langsung.
Tentu bentuknya tidak selalu sama seperti ratusan tahun lalu. Tolangga menjadi semakin kreatif, makanan berkembang, festival mendapat sentuhan pariwisata, dan generasi muda mulai dilibatkan dengan cara berbeda.
Perubahan tersebut tidak selalu berarti hilangnya tradisi.
Justru kemampuan beradaptasi sering menjadi alasan sebuah warisan budaya dapat bertahan lama. Tantangannya adalah memastikan perubahan tidak menghilangkan nilai spiritual dan sosial yang menjadi fondasinya.
Sejarah Walima dalam masyarakat Gorontalo memperlihatkan perjalanan panjang sebuah tradisi Maulid yang diperkirakan berkembang sejak menguatnya Islam di Gorontalo sekitar abad ke-17.
Dalam perkembangannya, ajaran keagamaan bertemu dengan budaya lokal dan melahirkan bentuk perayaan yang khas.
Dikili menjadi pusat spiritual, sedangkan tolangga, toyopo, kolombengi, sedekah makanan, dan gotong royong memperkaya dimensi sosialnya.
Kini perayaan tersebut bahkan berkembang menjadi atraksi wisata, terutama melalui Festival Walima di Desa Bongo.
Namun daya tarik terbesarnya bukan pada banyaknya kue atau kemegahan parade. Nilai rasa syukur, kecintaan kepada Nabi, kebersamaan, dan penghormatan kepada sesama adalah alasan tradisi ini terus bertahan.
Jika berkunjung ke Gorontalo saat Maulid, coba saksikan Walima secara langsung dan lihat bagaimana sejarah masih hidup bersama masyarakt.
FAQ
1. Sejak kapan tradisi Walima ada di Gorontalo?
Pemerintah Provinsi Gorontalo menyebut tradisi ini diperkirakan telah berkembang sejak sekitar abad ke-17, bersamaan dengan menguatnya Islam di Bumi Hulondalo.
2. Apa tujuan utama Walima?
Tradisi ini dilakukan untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nilai yang menyertainya mencakup zikir, doa, rasa syukur, kecintaan kepada Nabi, berbagi makanan, dan mempererat hubungan sosial.
3. Apa itu dikili?
Dikili adalah tradisi zikir dan lantunan mengenai kisah serta kehidupan Nabi Muhammad SAW. Dalam praktik tertentu, dikili berlangsung sejak malam hingga pagi.
4. Apa fungsi tolangga dalam Walima?
Tolangga merupakan wadah berhias yang digunakan untuk menata kue dan makanan sebelum dibawa ke masjid. Bentuknya dapat menyerupai menara, masjid, maupun perahu.
5. Mengapa Desa Bongo terkenal dengan Festival Walima?
Tradisi ini dilaksanakan di berbagai wilayah Gorontalo, tetapi Bongo berkembang sebagai salah satu pusat perayaan paling terkenal dan menjadikannya bagian dari Desa Wisata Religi Bubohu.
