Bayangan tentang pesantren biasanya identik dengan ruang belajar, masjid, asrama, dan aktivitas mengaji. Namun di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, ada konsep yang sedikit berbeda.
Di sini, kegiatan keagamaan bertemu dengan pepohonan, pondok tradisional, sejarah lokal, dan suasana alam terbuka. Tempat tersebut dikenal sebagai Pesantren Alam Bubohu, bagian penting dari kawasan Desa Wisata Religi Bubohu.
Di lingkungan ini, santri tidak hanya mempelajari ilmu agama Islam. Kawasan Bubohu juga dikembangkan sebagai tempat mengenal kebudayaan Gorontalo, sejarah daerah, dan hubungan manusia dengan lingkungan.
Indonesia Kaya mencatat bahwa Desa Adat Bubohu berfungsi sebagai pesantren alam sekaligus tempat mempelajari sejarah Kerajaan Gorontalo.
Konsepnya membuat Bubohu berbeda dari destinasi religi yang hanya menawarkan bangunan untuk dilihat.
Pengunjung bisa menemukan Wombohe, simbol Walima, peninggalan sejarah, burung merpati, hingga aktivitas keagamaan yang masih berlangsung.
Lalu, sebenarnya seperti apa Pesantren Alam Bubohu dan bagaimana tempat ini berkembang?
Pesantren Alam Bubohu Berada di Desa Bongo
Pesantren Alam Bubohu berada di kawasan Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Kawasan tersebut menjadi bagian dari Desa Wisata Religi Bubohu yang menggabungkan pendidikan, budaya, aktivitas keagamaan, dan pariwisata.
Hubungan nama Bubohu dan Bongo memang sering membuat orang yang baru pertama mencari informasi sedikit bingung.
Bongo merupakan nama desa yang digunakan secara administratif saat ini, sementara Bubohu melekat kuat pada identitas sejarah, budaya, serta kawasan wisata religius di desa tersebut.
Di tengah Desa Bongo terdapat Taman Bubohu yang menjadi lokasi penting aktivitas pesantren alam.
Sementara di kawasan perbukitannya terdapat Masjid Walima Emas, dan di bagian lain desa terdapat Pantai Dulanga. Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat ketiganya sebagai bagian dari daya tarik wisata Bongo.
Artinya, pesantren tidak berdiri seperti kawasan yang terpisah dari desa.
Ia justru menjadi salah satu pusat yang membentuk karakter wisata religi Bongo.
Yosef Tahir Ma’ruf Menjadi Tokoh Penting di Balik Bubohu
Nama Yosef Tahir Ma’ruf, atau yang lebih dikenal sebagai Yotama, hampir selalu muncul ketika membicarakan perkembangan Taman Bubohu.
Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat Yotama sebagai penggagas kawasan tersebut. Ia dikenal sebagai tokoh setempat yang memiliki perhatian terhadap pelestarian agama dan budaya.
Bersama warga Desa Bongo, Taman Bubohu kemudian dikembangkan sebagai pesantren alam.
Kajian Universitas Negeri Gorontalo yang terbit berdasarkan penelitian pada 2015 juga menunjukkan bahwa Pesantren Alam Bubohu sudah menjadi salah satu unsur penting dalam tata kelola Desa Wisata Religi Bongo.
Penelitian tersebut menyebut Pesantren Alam Bubohu secara khusus menangani kegiatan religius, berdampingan dengan lembaga lain yang mengurus pemberdayaan masyarakat dan pariwisata formal.
Catatan mengenai tahapan pengembagannya memang perlu dibaca hati-hati.
Pada Desember 2016, Pemerintah Provinsi Gorontalo masih memberitakan dukungan terhadap pembangunan atau pengembangan pesantren alam di kawasan wisata religi tersebut.
Pejabat daerah saat itu menekankan gagasan “membaca alam” karena Bubohu berada di lingkungan yang memiliki laut dan perbukitan.
Karena itu, lebih aman memahami Pesantren Alam Bubohu sebagai kawasan pendidikan yang berkembang secara bertahap, bukan proyek yang muncul dalam satu tanggal pembangunan saja.
Mengapa Disebut “Pesantren Alam”?
Kata alam menjadi bagian yang sangat penting dari konsep Bubohu.
Pesantren ini tidak hanya menggunakan bangunan sebagai ruang belajar. Lingkungan sekitarnya juga dipandang sebagai media pendidikan.
Dalam kunjungannya pada 2021, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menggambarkan pengalaman di Bubohu sebagai perpaduan antara tadabur alam dan tadabur Al-Qur’an.
Konsep tersebut cukup mudah dipahami jika melihat kondisi kawasannya.
Desa Bongo memiliki perbukitan, lingkungan hijau, kawasan pesisir, serta Taman Bubohu yang dibuat terbuka. Aktivitas belajar agama karena itu dapat berlangsung berdekatan dengan alam dan unsur budaya lokal.
Dalam berita Pemerintah Provinsi Gorontalo tahun 2016, gagasan pesantren alam bahkan secara eksplisit dikaitkan dengan belajar “membaca alam”, dengan laut dan gunung sebagai bagian dari lingkungan pendukungnya.
Pendekatan seperti ini memberikan pengalaman berbeda.
Santri dan pengunjung tidak hanya memahami ajaran melalui teks. Mereka juga diajak melihat keteraturan alam, hubungan antarmakhluk, kebersihan lingkungan, hingga pentingnya menjaga ruang hidup bersama.
Wombohe Menjadi Ciri Khas Pesantren Alam Bubohu
Salah satu hal yang langsung menarik perhatian ketika berada di Taman Bubohu adalah keberadaan Wombohe.
Wombohe berupa pondok atau gubuk tradisional Gorontalo yang berada di lingkungan pesantren. Indonesia Kaya menyebut barisan Wombohe sebagai salah satu ciri khas Pesantren Alam Bubohu.
Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat terdapat empat Wombohe yang dikaitkan secara simbolis dengan empat sahabat Nabi Muhammad SAW.
Pondok-pondok tersebut juga memiliki bentuk yang berhubungan dengan identitas Walima, tradisi peringatan Maulid Nabi yang sangat kuat di Desa Bongo.
Di sinilah konsep pesantren bertemu langsung dengan kebudayaan lokal.
Lingkungan pendidikan tidak dibuat dengan menghapus identitas Gorontalo. Sebaliknya, bentuk bangunan, simbol, dan cerita tradisional justru digunakan untuk memperkenalkan nilai agama.
Bagi wisatawan, Wombohe mungkin terlihat sebagai objek menarik untuk difoto.
Namun akan jauh lebih bermakna jika pengunjung juga memahami bahwa bangunan tersebut merupakan bagian dari simbol dan identitas budaya yang ingin dipertahankan.
Toyopo dan Walima Hadir dalam Lingkungan Pesantren
Selain Wombohe, lingkungan Pesantren Alam Bubohu juga memiliki bangunan kayu yang bentuknya menyerupai toyopo.
Toyopo memiliki hubungan dengan Tradisi Walima Gorontalo. Indonesia Kaya menjelaskan bahwa bentuk tersebut terinspirasi dari wadah yang digunakan untuk menyimpan kue pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Hal ini menunjukkan betapa kuatnya Walima dalam identitas Bubohu.
Tradisi tersebut tidak hanya muncul setahun sekali ketika masyarakat merayakan Maulid. Unsur visual dan filosofinya ikut diterjemahkan ke dalam desain kawasan.
Pemerintah Provinsi Gorontalo juga mencatat adanya kolam di Taman Bubohu yang bentuknya dikaitkan dengan janin manusia dalam kandungan. Filosofinya berhubungan dengan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dengan begitu, pengunjung sebenarnya sedang berjalan melalui ruang yang penuh simbol.
Pondok, kolam, bentuk bangunan, dan lingkungan bukan sekadar dekorasi. Semuanya membantu menjelaskan hubungan antara tradisi masyarakat Bongo dengan kehidupan keagamaannya.
Tidak Hanya Mengaji, Bubohu Juga Menjadi Ruang Belajar Sejarah
Salah satu sisi menarik Pesantren Alam Bubohu adalah hubungan antara pendidikan agama dan sejarah lokal.
Indonesia Kaya mencatat bahwa kawasan Bubohu juga menjadi tempat untuk mengenal lebih jauh sejarah Kerajaan Gorontalo. Di dalam kawasan terdapat Maa Taduwolo, yang disebut menyimpan sumber-sumber berkaitan dengan sejarah Gorontalo.
Pengunjung juga dapat menemukan fosil kayu yang menjadi salah satu elemen khas kawasan.
Pendekatan seperti ini membuat pengalaman belajar menjadi lebih luas.
Agama tidak ditempatkan terpisah dari sejarah masyarakat. Santri dan pengunjung dapat melihat bagaimana Islam, adat Gorontalo, tradisi Walima, bentuk arsitektur, dan kehidupan desa berkembang berdampingan.
Ini juga menjelaskan mengapa Bubohu lebih tepat disebut kawasan wisata edukasi-religi, bukan sekadar lokasi wisata rohani.
Ada sesuatu yang bisa dilihat, tetapi ada pula sesuatu yang perlu dipelajari.
Pesantren Alam dan Perkembangan Wisata Religi Bubohu
Peran pesantren semakin terlihat setelah Desa Bongo berkembang sebagai destinasi wisata nasional.
Ketika Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berkunjung dalam rangka Anugerah Desa Wisata Indonesia pada November 2021, ia bertemu dengan para santri Pesantren Alam Bubohu dan menyerahkan bantuan Al-Qur’an.
Pemerintah Provinsi Gorontalo menyebut Desa Wisata Religi Bubohu saat itu sebagai desa wisata yang menggabungkan basis komunitas, edukasi, dan religi.
Bongo kemudian meraih juara kedua kategori Desa Wisata Berkembang pada ADWI 2021. Pemerintah Provinsi Gorontalo menempatkan Taman Bubohu dan karakter religius masyarakat sebagai bagian penting dari identitas destinasi tersebut.
Pesantren alam mempunyai posisi strategis di sini.
Ia memberikan alasan bagi wisatawan untuk tidak hanya datang melihat pemandangan, tetapi juga mendapatkan pengalaman spiritual dan edukatif.
Konsep seperti ini membuat wisata religi lebih dalam daripada sekadar mengunjungi masjid.
Pesantren Alam Tetap Memiliki Fungsi Pendidikan
Popularitas sebagai objek wisata sebaiknya tidak membuat fungsi utama pesantren terlupakan.
Penelitian Universitas Negeri Gorontalo mengenai tata kelola wisata Bongo menempatkan Pesantren Alam Bubohu sebagai lembaga yang secara khusus berfokus pada kegiatan religius.
Indonesia Kaya juga mencatat keberadaan santri yang menimba ilmu agama Islam di lingkungan tersebut.
Artinya, tempat ini bukan sekadar taman dengan tema Islam.
Kegiatan pendidikan dan keagamaan menjadi bagian nyata dari identitasnya.
Bagi pengunjung, hal tersebut berarti ada etika yang perlu diperhatikan. Suasana belajar, ibadah, dan kegiatan santri selayaknya tetap dihormati. Wisatawan dapat menikmati lingkungan, tetapi sebaiknya tidak memperlakukan setiap sudut seperti studio foto.
Sikap sederhana semacam itu membantu menjaga keseimbangan antara pendidikan dan pariwsata.
Hubungan Pesantren Alam dengan Masyarakat Desa Bongo
Hal lain yang tidak boleh dilewatkan adalah peran masyarakat.
Taman Bubohu dikembangkan Yotama bersama warga setempat. Namun kajian UNG pada 2015 juga pernah mencatat adanya tantangan berupa keterlibatan masyarakat dan koordinasi antar-pengelola dalam pengembangan wisata religi.
Catatan ini penting karena desa wisata idealnya tidak hanya membawa manfaat kepada pengelola utama.
Masyarakat sekitar juga perlu memperoleh ruang melalui kuliner, kerajinan, kegiatan budaya, jasa wisata, maupun pelestarian tradisi.
Pada akhirnya, pesantren alam dan wisata Bubohu tidak dapat dipisahkan dari kehidupan warga Desa Bongo.
Budaya yang diperlihatkan kepada wisatawan berasal dari masyarakat itu sendiri. Karena itu, keberlanjutan kawasan sangat bergantung pada keterlibatan generasi lokal dalam menjaga nilai agama dan kebudayaannya.
Mengapa Pesantren Alam Bubohu Menarik Dikunjungi?
Daya tarik terbesar Bubohu sebenarnya terletak pada kombinasi berbagai unsur.
Dalam satu kawasan, pengunjung dapat melihat aktivitas pesantren, pondok Wombohe, simbol Walima, sejarah lokal, lingkungan alam, dan kehidupan masyarakat desa. Tidak jauh dari sana juga terdapat Masjid Walima Emas yang menjadi salah satu landmark religi Bongo.
Bagi wisatawan yang hanya mencari tempat foto, mungkin kunjungan selesai dalam waktu singkat.
Namun orang yang datang dengan rasa ingin tahu bisa memperoleh pengalaman lebih banyak.
Cobalah memperhatikan bentuk Wombohe, bertanya mengenai Walima, mengenal sejarah Bongo, dan memahami mengapa konsep pendidikan di sini disebut pesantren alam.
Dengan cara tersebut, kunjungan berubah dari sekadar melihat menjadi belajar.
Pesantren Alam Bubohu merupakan salah satu bagian penting dari identitas Desa Bongo sebagai desa wisata religi.
Kawasan ini dikembangkan oleh Yosef Tahir Ma’ruf atau Yotama bersama masyarakat dengan memadukan pendidikan Islam, lingkungan alam, sejarah, dan kebudayaan Gorontalo.
Wombohe, simbol Walima, bangunan menyerupai toyopo, aktivitas santri, dan keberadaan situs sejarah membuat Bubohu berbeda dari pesantren maupun destinasi wisata biasa.
Tempat ini menunjukkan bahwa belajar agama dapat berjalan berdampingan dengan mengenal budaya serta lingkungan.
Jika berkunjung ke Desa Bongo, jangan hanya berhenti di spot fotonya. Luangkan waktu untuk memahami filosofi bangunan, sejarah masyarakat, dan kehidupan religius yang membuat Bubohu memiliki karakter kuat. Dengan begitu, perjalanan terasa jauh lebih bermakna.
FAQ
1. Di mana Pesantren Alam Bubohu berada?
Pesantren Alam Bubohu berada di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, dan menjadi bagian dari kawasan Desa Wisata Religi Bubohu.
2. Siapa pendiri Pesantren Alam Bubohu?
Tokoh yang dikenal sebagai penggagasnya adalah Yosef Tahir Ma’ruf atau Yotama, seorang tokoh masyarakat Desa Bongo yang aktif dalam pelestarian agama dan budaya.
3. Mengapa disebut pesantren alam?
Konsepnya menggabungkan pendidikan agama dengan lingkungan sebagai ruang pembelajaran. Gagasan tersebut antara lain dikaitkan dengan tadabur alam serta belajar memahami hubungan manusia dengan lingkungan.
4. Apa yang bisa dilihat di Pesantren Alam Bubohu?
Pengunjung dapat menemukan Wombohe, bangunan yang terinspirasi toyopo, aktivitas keagamaan, simbol Walima, fosil kayu, serta unsur sejarah Gorontalo di kawasan Bubohu.
5. Apakah Pesantren Alam Bubohu masih digunakan untuk kegiatan agama?
Ya. Sumber resmi maupun kajian akademik mencatat Pesantren Alam Bubohu sebagai tempat santri mempelajari agama dan lembaga yang berfokus pada kegiatan religius.
