Di atas perbukitan Desa Bongo, Kabupaten Gorontalo, berdiri sebuah masjid dengan kubah berwarna keemasan yang mudah menarik perhatian.
Dari halamannya, pengunjung bisa memandang perkampungan, kawasan pesisir, perbukitan, hingga bentang Teluk Tomini.
Bangunan tersebut adalah Masjid Walima Emas, salah satu landmark Desa Wisata Religi Bubohu Bongo. Masjid ini bukan hanya terkenal karena lokasinya yang berada di atas bukit.
Nama, bentuk arsitektur, dan sejarah pembangunannya mempunyai hubungan erat dengan tradisi keagamaan masyarakat Gorontalo, terutama Walima atau peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Masjid Walima Emas dan sejarahnya juga tidak dapat dipisahkan dari sosok Yosef Tahir Ma’ruf atau Yotama, tokoh asal Bongo yang memiliki perhatian besar terhadap agama, kebudayaan, dan pengembangan desa wisata.
Dari sebuah gagasan pada akhir 2000-an, masjid ini kemudian berkembang menjadi simbol yang menghubungkan ibadah, budaya lokal, dan pariwsata dalam satu tempat.
Di Mana Masjid Walima Emas Berada?
Masjid Walima Emas berada di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Posisinya cukup berbeda dari masjid kampung pada umumnya karena dibangun di kawasan perbukitan.
InfoPublik mencatat lokasinya berada pada ketinggian sekitar 250 kaki dari permukaan laut. Sementara portal Indonesia Travel menonjolkan posisinya yang menghadap bentang Teluk Tomini.
Lokasi di atas bukit membuat perjalanan menuju masjid terasa menjadi bagian dari pengalaman.
Setelah melewati jalan menanjak, pengunjung akan menemukan area terbuka dengan masjid sebagai pusat perhatian. Dari sini, panorama Desa Bongo dan kawasan pesisir terlihat cukup luas.
Masjid tersebut juga menjadi bagian dari kelompok destinasi Desa Wisata Religi Bubohu. Jadesta Kementerian Pariwisata mencatat tiga daya tarik utama di kawasan ini, yakni Taman Wisata Bubohu, Masjid Walima Emas Bubohu, dan Pantai Dulanga.
Pembangunan Masjid Dimulai pada 2008
Sejarah modern Masjid Walima Emas dapat ditelusuri hingga tahun 2008.
InfoPublik dan sejumlah catatan media mengenai masjid tersebut menyebut pembangunan dimulai pada tahun itu.
Prosesnya berlangsung beberapa tahun karena lokasinya berada di atas bukit dan bangunan tersebut dirancang bukan sekadar sebagai masjid biasa, tetapi juga sebagai bagian dari kawasan religi Bongo.
Tokoh yang dikenal sebagai penggagas sekaligus pendirinya adalah Yosef Tahir Ma’ruf, yang akrab dipanggil Yotama.
Dalam laporan ketika masjid diresmikan pada 2012, Yotama menjelaskan bahwa pembangunan tersebut telah diperjuangkan selama sekitar lima tahun. Ia ingin masjid menjadi bagian dari peradaban Islam sekaligus tempat pengkajian kebudayaan Islam di Gorontalo.
Visi tersebut sesuai dengan pengembagan Bubohu Bongo secara keseluruhan.
Yotama juga dikenal sebagai tokoh penting di balik Taman Bubohu, kawasan pesantren alam yang menggabungkan pendidikan agama dengan kebudayaan Gorontalo.
Pemerintah Provinsi Gorontalo menyebut pengembangan tersebut dilakukan bersama masyarakat setempat.
Diresmikan pada Tanggal Unik 12 Desember 2012
Salah satu bagian paling menarik dari sejarh Masjid Walima Emas adalah tanggal peresmiannya.
Masjid ini diresmikan pada 12 Desember 2012, atau 12-12-12. Bahkan Republika yang mengutip ANTARA saat itu mencatat peresmian berlangsung pada pukul 12.12 WITA.
Tanggal tersebut memang telah direncanakan sebelumnya.
Peresmian dilaksanakan dengan salat bersama, zikir, serta pagelaran budaya Islam. Setelah pembangunan berlangsung selama beberapa tahun, jamaah akhirnya dapat menggunakan masjid tersebut secara resmi.
Menariknya, masyarakat dan wisatawan sebenarnya telah mendatangi kawasan masjid bahkan sebelum seluruh proses pembangunannya selesai.
Hal ini menunjukkan bahwa sejak awal lokasi tersebut sudah mempunyai daya tarik, baik karena konsepnya maupun panorama dari atas bukit.
Mengapa Dinamakan Masjid Walima Emas?
Nama Walima bukan dipilih secara kebetulan.
InfoPublik menjelaskan bahwa nama tersebut diambil dari tradisi masyarakat Gorontalo dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi Walima sangat kuat di Desa Bongo dan kemudian menjadi salah satu identitas budaya paling terkenal dari kawasan Bubohu.
Dalam Walima, masyarakat melakukan dikili atau zikir, menyiapkan berbagai kue tradisional, kemudian menatanya pada wadah yang disebut tolangga.
Kolombengi menjadi salah satu makanan yang paling erat hubungannya dengan perayaan tersebut. Tolangga yang penuh kue kemudian dibawa menuju masjid sebelum makanan dibagikan kepada masyarakat.
Nama “Walima” pada masjid karena itu langsung menghubungkan bangunan tersebut dengan tradisi religi Desa Bongo.
Sementara unsur “Emas” mudah dikenali dari bagian kubah serta ornamen masjid yang tampil dengan warna keemasan. Portal Indonesia Travel juga menjadikan kubah emas sebagai salah satu karakter visual utama bangunan ini.
Arsitekturnya Mengambil Inspirasi dari Tradisi Lokal
Jika diamati dari kejauhan, Masjid Walima Emas mempunyai bentuk yang berbeda dari banyak masjid modern.
Pemerintah Provinsi Gorontalo menggambarkan bangunan tersebut seperti tolangga raksasa yang berdiri di atas bukit. Tolangga sendiri merupakan struktur atau wadah berhias yang digunakan untuk membawa kue dan makanan ketika Tradisi Walima berlangsung.
Di bagian masjid juga terdapat ornamen yang mengingatkan pada kue kolombengi.
Laporan mengenai masjid ini mencatat keberadaan unsur visual tolangga dan kolombengi pada area bangunan.
Interpretasi tersebut membuat arsitekturnya terasa sangat terhubung dengan budaya masyarakat Bongo, bukan sekadar menggunakan bentuk masjid yang dapat ditemukan di daerah mana pun.
Di sinilah daya tariknya terasa cukup kuat.
Arsitektur digunakan untuk menyampaikan identitas. Orang yang memahami Tradisi Walima akan melihat bangunan masjid dengan cara berbeda karena bentuk-bentuk tersebut langsung mengingatkan pada Maulid, kolombengi, tolangga, dan tradisi berbagi makanan.
Hubungan Masjid Walima Emas dengan Tradisi Maulid
Hubungan antara masjid dan Walima tidak berhenti pada nama serta arsitektur.
Pada 25 Oktober 2022, masyarakat Desa Bongo untuk pertama kalinya menggelar rangkaian Walima di masjid yang berada di puncak bukit tersebut. Sebelumnya rangkaian utama tradisi banyak berkaitan dengan masjid yang berada lebih dekat dengan pemukiman warga.
Perayaan dimulai sejak malam.
Para pelantun dikili melakukan zikir menggunakan bahasa Arab dan Gorontalo hingga pagi. Setelah itu, warga mengarak tolangga berhias kue tradisional dari perkampungan menuju Masjid Walima Emas.
Peristiwa tersebut memperkuat fungsi masjid sebagai ruang budaya sekaligus tempat ibadah.
Parade yang awalnya muncul cukup spontan kemudian direncanakan menjadi agenda tahunan karena mampu menarik perhatian pengunjung.
Dengan demikian, hubungan Masjid Walima Emas dengan tradisi setempat semakin nyata: nama Walima bukan sekadar label, tetapi benar-benar hidup melalui kegiatan masyarakat.
Masjid Menjadi Bagian dari Desa Wisata Religi Bubohu
Peran Masjid Walima Emas semakin menonjol ketika Desa Bongo berkembang sebagai destinasi wisata.
Pada 2021, Desa Bongo bersama Taman Wisata Religi Bubohu, Masjid Walima Emas, dan Pantai Dulanga masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia.
Masjid kemudian ikut menjadi landmark kawasan.
Indonesia Travel saat ini menempatkan Masjid Walima Emas sebagai salah satu atraksi wisata ramah Muslim Gorontalo dan menyoroti kombinasi nuansa spiritual dengan pemandangan Teluk Tomini.
Hal tersebut memperlihatkan perubahan fungsi yang menarik.
Masjid tetap menjadi rumah ibadah, tetapi lingkungan sekitarnya juga berkembang sebagai ruang wisata, edukasi, kegiatan budaya, dan tempat memperkenalkan identitas Gorontalo kepada pengunjung.
Pengelolaan seperti ini tentu membutuhkan keseimbangan.
Wisatawan perlu mengingat bahwa mereka sedang memasuki tempat ibadah. Pakaian sopan, menjaga suara, tidak mengganggu jamaah, serta menjaga kebersihan menjadi bagian penting ketika berkunjung.
Panorama dari Atas Bukit Menjadi Daya Tarik Tambahan
Tidak semua orang datang hanya karena arsitekturnya.
Posisi Masjid Walima Emas di atas bukit membuat panorama menjadi salah satu daya tarik utama. Dari kawasan masjid, pengunjung dapat melihat bagian Desa Bongo, kawasan pesisir, perahu nelayan, perbukitan, serta Teluk Tomini.
Kombinasi tersebut memberikan suasana yang cukup berbeda.
Di satu sisi terdapat bangunan religi dengan simbol Walima. Di sisi lain terbentang lanskap pesisir Gorontalo yang terbuka luas.
Hal ini pula yang membuat masjid sering dimasukkan ke dalam perjalanan bersama Taman Bubohu dan Pantai Dulanga. Ketiganya memperlihatkan tiga sisi Desa Bongo sekaligus: religi, budaya, dan alam.
Bagi pengunjung, sebaiknya perjalanan tidak hanya digunakan untuk mengambil foto.
Mempelajari sedikit tentang Walima dan kehidupan masyarakat Bongo akan membuat kunjungan jauh lebih bermakna.
Mengapa Masjid Walima Emas Penting bagi Identitas Bongo?
Nilai Masjid Walima Emas bukan hanya terletak pada kubah berwarna emas.
Bangunan ini menjadi contoh bagaimana sebuah desa menerjemahkan tradisi menjadi ruang fisik. Walima yang sebelumnya terutama hadir melalui zikir, tolangga, dan makanan kini juga mempunyai simbol arsitektur yang dapat dikenali sepanjang tahun.
Pemerintah Provinsi Gorontalo bahkan menyebut Masjid Walima Emas sebagai pelengkap simbol religi Desa Bongo.
Hubungannya dengan gagasan Yotama juga membuat masjid mempunyai tempat khusus dalam perjalanan pengembangan Bubohu.
Ia mempertemukan kegiatan keagamaan, pelestarian budaya, pendidikan, dan pariwisata. Jika pengelolaannya terus melibatkan masyarakt lokal, masjid dapat tetap menjadi ruang ibadah sekaligus pintu masuk untuk memahami budaya Islam Gorontalo.
Masjid Walima Emas dan sejarahnya tidak dapat dipisahkan dari Desa Bongo dan tradisi Islam Gorontalo. Pembangunannya dimulai pada 2008 atas gagasan Yosef Tahir Ma’ruf atau Yotama, kemudian diresmikan secara simbolis pada 12 Desember 2012 pukul 12.12 WITA.
Nama Walima berasal dari tradisi Maulid yang telah lama hidup di masyarakat, sedangkan arsitekturnya menghadirkan unsur visual yang mengingatkan pada tolangga dan budaya lokal.
Kini masjid menjadi salah satu landmark Desa Wisata Religi Bubohu bersama Taman Bubohu dan Pantai Dulanga.
Jika berkunjung ke Gorontalo, masukkan Masjid Walima Emas ke dalam perjalanan. Datanglah bukan hanya untuk menikmati panorama, tetapi juga untuk mengenal cerita Walima dan masyarakat yang membentuk identitas tempat ini.
FAQ
1. Di mana Masjid Walima Emas berada?
Masjid Walima Emas berada di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Lokasinya berada di kawasan perbukitan yang menghadap Teluk Tomini.
2. Kapan Masjid Walima Emas dibangun?
Pembangunannya dimulai pada 2008 dan masjid kemudian diresmikan pada 12 Desember 2012.
3. Siapa penggagas Masjid Walima Emas?
Tokoh yang dikenal sebagai penggagas sekaligus pendirinya adalah Yosef Tahir Ma’ruf atau Yotama, tokoh asal Desa Bongo yang aktif dalam pengembangan wisata religi dan budaya Bubohu.
4. Mengapa masjid ini diberi nama Walima?
Nama Walima diambil dari tradisi masyarakat Gorontalo dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi tersebut sangat kuat di Desa Bongo.
5. Apakah Masjid Walima Emas merupakan bagian dari Desa Wisata Bubohu?
Ya. Jadesta mencatat Masjid Walima Emas sebagai satu dari tiga destinasi utama Desa Wisata Religi Bubohu bersama Taman Wisata Bubohu dan Pantai Dulanga.
