Datang ke Gorontalo bukan hanya soal menikmati laut biru, kuliner khas, atau panorama Danau Limboto.
Di Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, terdapat sebuah kawasan yang menawarkan pengalaman berbeda: perjalanan yang mempertemukan agama, budaya, sejarah, dan alam dalam satu tempat.
Kawasan tersebut dikenal sebagai Desa Wisata Religi Bubohu, yang secara administratif berada di Desa Bongo. Bubohu bukan sekadar objek wisata dengan masjid cantik di atas bukit.
Identitasnya tumbuh dari perjalanan panjang masyarakat Bongo, tradisi Islam yang diwariskan antargenerasi, serta usaha warga dan tokoh lokal untuk menjaga peninggalan budaya Gorontalo.
Saat ini Bubohu dikenal melalui Taman Wisata Bubohu, Masjid Walima Emas, tradisi Walima, hingga Pantai Dulanga. Kementerian Pariwisata juga mencatat Bubohu sebagai desa wisata yang menggabungkan unsur religi, budaya, dan alam.
Lantas, bagaimana sejarah Desa Wisata Religi Bubohu Gorontalo berkembang hingga dikenal secara nasional?
Bubohu Berada di Desa Bongo, Batudaa Pantai
Hal pertama yang perlu dipahami adalah hubungan antara nama Bubohu dan Bongo. Wisata Religi Bubohu tidak berdiri sebagai desa administratif tersendiri.
Kawasannya berada di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo. Informasi ini juga tercantum dalam basis data Jejaring Desa Wisata Kementerian Pariwisata.
Desa Bongo berada di kawasan pesisir yang berhubungan langsung dengan bentang alam Teluk Tomini. Karena itulah karakter kawasan ini cukup unik. Dalam satu perjalanan, wisatawan dapat menemukan kehidupan perkampungan, bukit, kawasan religi, hingga pantai.
Nama Bubohu sendiri memiliki hubungan kuat dengan identitas lama kawasan Bongo. Sejumlah sumber sejarah lokal mencatat bahwa wilayah yang sekarang dikenal sebagai Bongo sebelumnya pernah disebut Bubohu.
Menariknya, terdapat perbedaan catatan mengenai kapan perubahan nama Bubohu menjadi Bongo berlangsung.
Sebuah sumber lokal menyebut perubahan terjadi pada 1937, sementara literatur Universitas Negeri Gorontalo mencatat perubahan kampung Bubohu menjadi Bongo pada 1973.
Karena adanya perbedaan tersebut, tanggal perubahan nama sebaiknya dipahami sebagai bagian dari riwayat lokal yang masih memiliki variasi pencatatan.
Akar Sejarah Bubohu Lebih Tua dari Industri Pariwisata
Jauh sebelum orang mengenalnya sebagai destinasi wisata, kawasan Bongo telah memiliki kehidupan sosial dan keagamaan yang kuat.
Dalam berbagai penuturan lokal, perkembangan masyarakat Bubohu/Bongo berkaitan dengan sejarah pemerintahan dan penyebaran Islam di Gorontalo.
Jejak tersebut kemudian dipertahankan melalui tradisi, kegiatan keagamaan, serta benda-benda budaya yang masih dapat dikenali hingga sekarang.
Salah satu tempat yang sering dikaitkan dengan penyimpanan jejak sejarh tersebut adalah Maa Taduwolo. Kawasan Bubohu bahkan diperkenalkan sebagai lokasi untuk mempelajari lebih jauh sejarah dan kebudayaan Gorontalo.
Jadi, konsep wisata religi di Bubohu sebenarnya tidak muncul dari ruang kosong. Pariwisata berkembang dengan memanfaatkan identitas budaya dan religius yang sebelumnya memang sudah hidup di tengah masyarakat.
Inilah yang membuat Bubohu berbeda dari objek wisata buatan yang baru mendapatkan tema setelah dibangun.
Tradisi Walima Menjadi Identitas Keagamaan Desa Bongo
Sulit membicarakan sejarah Bubohu tanpa menyebut Walima.
Walima merupakan tradisi masyarakat Gorontalo dalam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Pemerintah Provinsi Gorontalo menyebut tradisi ini diperkirakan telah berkembang sejak abad ke-17, seiring menguatnya pengaruh Islam di Gorontalo.
Di Desa Bongo, perayaannya berkembang menjadi salah satu ekspresi budaya Islam paling menonjol.
Tradisi biasanya berkaitan dengan dikili, yaitu zikir dan puji-pujian yang dilakukan dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Setelah rangkaian keagamaan berlangsung, masyarakat membawa makanan atau kue yang ditata dalam wadah khusus.
Salah satu makanan yang identik dengan perayaan tersebut adalah kue kolombengi. Dalam dokumentasi perayaan Walima di Bubohu, masyarakat terlihat membawa tolangga berisi kue yang kemudian dibagikan kepada warga dan pengunjung.
Bagi masyarakt Bongo, Walima bukan sekadar festival untuk menarik wisatawan. Ia merupakan tradisi keagamaan yang kemudian menjadi salah satu fondasi kuat pengembangan wisata budaya dan religi.
Yosef Tahir Ma’ruf dan Lahirnya Taman Wisata Bubohu
Perubahan besar terjadi ketika nilai-nilai budaya tersebut mulai dikembangkan menjadi kawasan yang bisa digunakan untuk pendidikan sekaligus wisata.
Tokoh penting dalam proses ini adalah almarhum Yosef Tahir Ma’ruf, yang lebih dikenal dengan nama Yotama.
Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat Yotama sebagai penggagas pengembangan Taman Bubohu. Bersama masyarakat setempat, kawasan tersebut dikembangkan sebagai pesantren alam yang memadukan pendidikan agama, budaya Gorontalo, dan lingkungan.
Beberapa penelitian pariwisata juga menempatkan Yotama sebagai figur sentral dalam pembangunan dan pengelolaan desa wisata Bongo.
Perannya mencakup rekonstruksi sejarah lokal, pengembangan fasilitas wisata, penyelenggaraan Festival Walima, hingga membangun jejaring dengan berbagai pihak.
Literatur akademik Universitas Negeri Gorontalo menyebut Desa Bongo telah dikembangkan sebagai Desa Wisata Religi Bubohu sejak 2004. Catatan penelitian lain juga menyebut kawasan ini diresmikan sebagai desa wisata pada tahun yang sama.
Tahun 2004 karena itu menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Bubohu dari kawasan dengan kekayaan tradisi lokal menuju destinasi wisata religi yang lebih terorganisasi.
Pesantren Alam Menjadi Ciri Khas Bubohu
Salah satu ide menarik dalam pengembagan Bubohu adalah konsep pesantren alam.
Di sini pendidikan keagamaan tidak dipisahkan sepenuhnya dari lingkungan dan kebudayaan lokal. Kawasan pesantren memiliki sejumlah bangunan tradisional yang sekaligus berfungsi sebagai media untuk mengenalkan filosofi masyarakat Gorontalo.
Salah satunya adalah wombohe, berupa pondok atau gubuk tradisional yang menjadi ciri khas Taman Bubohu. Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat adanya empat wombohe yang melambangkan empat sahabat Nabi Muhammad SAW.
Selain itu, pengunjung dapat menemukan bangunan dengan bentuk yang terinspirasi dari wadah penyajian dalam tradisi Walima.
Lingkungan tersebut membuat wisatawan tidak hanya datang untuk melihat pemandangan, tetapi juga mengenal hubungan antara arsitektur, kepercayaan, dan kebiasaan masyarakat setempat.
Inilah salah satu alasan Bubohu sering disebut sebagai destinasi wisata edukasi sekaligus religi.
Masjid Walima Emas Menjadi Landmark Baru
Perjalanan Bubohu kemudian semakin mudah dikenali melalui hadirnya Masjid Walima Emas.
Masjid ini berada di kawasan perbukitan dan menjadi salah satu landmark yang paling sering diasosiasikan dengan Bubohu. Dari area masjid, pengunjung dapat menikmati pemandangan perbukitan dan Teluk Tomini.
Nama “Walima” pada masjid tersebut sekaligus mempertahankan hubungan dengan tradisi Maulid yang telah lama menjadi identitas Desa Bongo.
Saat ini Kementerian Pariwisata memasukkan Masjid Walima Emas sebagai satu dari tiga destinasi utama Desa Wisata Religi Bubohu, bersama Taman Wisata Bubohu dan Pantai Dulanga.
Kombinasi inilah yang membuat pengalaman berkunjung ke Bubohu cukup lengkap. Seseorang dapat memulai perjalanan dari kawasan pesantren dan budaya, melihat masjid di perbukitan, kemudian melanjutkannya menuju kawasan pesisir.
Dari Desa Religi Menjadi Destinasi Wisata Nasional
Perjalanan panjang tersebut mendapat perhatian lebih luas ketika Bubohu masuk dalam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2021.
Bubohu berhasil masuk dalam jajaran 50 besar desa wisata ADWI 2021. Lebih jauh lagi, Pemerintah Provinsi Gorontalo mencatat Desa Wisata Religi Bubohu Bongo meraih juara kedua nasional kategori Desa Wisata Berkembang pada malam penganugerahan ADWI 2021.
Pencapaian tersebut penting karena menunjukkan bahwa daya tarik Bubohu tidak hanya dinilai dari bangunan atau pemandangannya.
Kekuatan utamanya terletak pada kemampuan menggabungkan tradisi Islam, kebudayaan Gorontalo, lingkungan alam, dan keterlibatan masyarakat dalam satu identitas destinasi.
Kini atraksi yang tercatat di Bubohu mencakup Parade Walima, Dikili, Tari Longgo, Tari Tidi Lo O’ayabu, serta aktivitas wisata berbasis budaya lainnya.
Mengapa Sejarah Bubohu Penting untuk Dipertahankan?
Perkembangan pariwisata selalu membawa peluang sekaligus tantangan.
Semakin banyak orang mengenal Bubohu, semakin besar peluang ekonomi bagi warga melalui kuliner, kerajinan, pemanduan wisata, kegiatan budaya, dan produk lokal.
Namun popularitas juga dapat membuat sebuah tradisi perlahan berubah menjadi sekadar tontonan apabila makna aslinya tidak dijaga.
Karena itu, masa depan Bubohu seharusnya tidak hanya bergantung pada pembangunan fasilitas baru.
Pelestarianya justru perlu berpusat pada cerita masyarakat, tradisi Walima, pendidikan keagamaan, peninggalan sejarah, serta keterlibatan generasi muda.
Wisatawan pun sebaiknya datang bukan hanya untuk mengambil foto, tetapi mencoba memahami mengapa sebuah bangunan, ritual, makanan, atau tarian memiliki arti bagi masyarakat Bongo.
Dengan cara itulah wisata religi bisa menjadi sarana menjaga identitas, bukan menggantikannya.
Sejarah Desa Wisata Religi Bubohu Gorontalo memperlihatkan bagaimana sebuah kampung dapat mengembangkan pariwisata tanpa sepenuhnya melepaskan akar budaya dan agamanya.
Bubohu tumbuh dari sejarah masyarakat Bongo, tradisi Islam seperti Walima dan Dikili, kemudian mendapatkan dorongan besar melalui gagasan Yosef Tahir Ma’ruf atau Yotama.
Pengembangan sebagai desa wisata sejak 2004, hadirnya pesantren alam dan Masjid Walima Emas, hingga prestasi pada ADWI 2021 membuat namanya semakin dikenal secara nasional.
Namun daya tarik paling penting dari Bubohu tetap berada pada tradisi yang hidup di tengah masyarakatnya.
Jika berkunjung ke Gorontalo, luangkan waktu untuk mengenal Bubohu lebih dari sekadar tempat berfoto. Datanglah dengan rasa ingin tahu, dengarkan cerita warga, dan lihat bagaimana budaya, agama, serta alam hidup berdampingan di Desa Bongo.
FAQ
1. Di mana Desa Wisata Religi Bubohu berada?
Desa Wisata Religi Bubohu berada di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai, Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
2. Sejak kapan Bubohu menjadi desa wisata religi?
Sejumlah penelitian mencatat pengembangan dan penetapan Desa Bongo sebagai Desa Wisata Religi Bubohu berlangsung sejak 2004.
3. Siapa tokoh yang merintis Taman Wisata Bubohu?
Tokoh yang dikenal sebagai penggagasnya adalah Yosef Tahir Ma’ruf atau Yotama, yang bersama masyarakat mengembangkan Taman Bubohu dan konsep pesantren alam.
4. Apa yang paling terkenal dari Bubohu?
Daya tarik utamanya meliputi Taman Wisata Bubohu, Masjid Walima Emas, Pantai Dulanga, pesantren alam, serta tradisi keagamaan dan budaya seperti Walima dan Dikili.
5. Apa prestasi Desa Wisata Religi Bubohu?
Pada ADWI 2021, Bubohu masuk 50 besar desa wisata dan meraih juara kedua nasional dalam kategori Desa Wisata Berkembang.
